Orideknews.com, PEGUNUNGAN ARFAK – Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Bergerak (PKB) yang digelar Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat di Distrik Membey, Kabupaten Pegunungan Arfak, menemukan sejumlah kasus gangguan jiwa yang belum mendapatkan penanganan memadai.
Kegiatan yang berlangsung pada 20–23 Mei 2026 itu dipusatkan di Kampung Membey, Imbesba, dan Inyebo dengan menghadirkan layanan kesehatan spesialis untuk menjangkau masyarakat di wilayah terpencil.
Ratusan warga dari berbagai kelompok usia memadati lokasi pelayanan untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan. Mulai dari anak-anak, ibu hamil, hingga orang dewasa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memeriksakan kondisi kesehatan mereka.
Berbagai layanan kesehatan diberikan langsung kepada masyarakat, seperti pemeriksaan kolesterol, gula darah, asam urat, tes malaria, hingga pengukuran tinggi badan, berat badan, lingkar perut, dan lingkar lengan guna menilai status gizi warga.
Pelayanan dilakukan dengan sistem jemput bola, di mana tim medis turun langsung ke kampung-kampung guna menjangkau masyarakat yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan.
Dalam pelayanan tersebut, dokter spesialis kejiwaan, dr. Mariama Nainggolan, M.Med.Sc., Sp.KJ menemukan sedikitnya tujuh warga yang mengalami gangguan mental dengan tingkat keparahan berbeda.
“Saya sebagai dokter spesialis jiwa mendapati selama tiga hari pelayanan ini ada tujuh orang yang terjaring mengalami gangguan mental,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebagian besar kasus yang ditemukan merupakan gangguan mental berat atau psikotik.
“Ada empat orang dengan gangguan mental berat atau psikotik, sementara dua lainnya mengalami gangguan mental ringan atau nonpsikotik,” katanya.
Kasus gangguan mental berat tersebut diketahui berdasarkan informasi dari petugas Puskesmas Anggigida dan laporan masyarakat kampung setempat. Namun hingga kini para pasien tersebut belum memperoleh penanganan kesehatan jiwa secara memadai.
“Kasus-kasus ini tentu menjadi perhatian kami ke depan, karena mereka membutuhkan penanganan lanjutan dan pendampingan,” jelas dr. Mariama.
Ia menambahkan, sejumlah kasus ini butuh pengobatan mental, mereka belum dapat diterapi dengan baik karena belum adanya ketersediaan fasilitas kesehatan yang mumpuni baik itu tenaga kesehatannya maupun obat-obatnya.
dr.Mariama lalu meminta Pemerintah Provinsi dan kabupaten Pegunungan Arfak perlu mencari solusi bersama sehingga kasus-kasus ini dapat teratasi.
Selain menemukan kasus gangguan jiwa, tim PKB Dinkes Papua Barat juga mendapati berbagai persoalan kesehatan masyarakat lainnya, termasuk tingginya konsumsi minuman energi sachet di kalangan warga serta sejumlah kasus penyakit telinga pada anak-anak. (ALW/ON).



