Orideknews.com, Pegunungan Arfak, – Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat menemukan tingginya kasus gangguan telinga pada anak-anak saat menggelar Pelayanan Kesehatan Bergerak (PKB) di Distrik Membey, Kabupaten Pegunungan Arfak, pada 20–23 Mei 2026.
Kegiatan yang dipusatkan di Kampung Membey, Imbesba, dan Inyebo itu menghadirkan layanan kesehatan spesialis untuk menjangkau masyarakat di wilayah terpencil, termasuk pelayanan Telinga, Hidung, dan Tenggorok (THT).
Dokter spesialis THT, dr. Asmawati Adnan, Sp.T.H.T.K.L mengungkapkan, kasus yang paling banyak ditemukan di Kampung Membey adalah benda asing di telinga, terutama pada anak-anak.
“Sebagian besar kasus THT yang kami temukan di Kampung Membey adalah benda asing di telinga. Paling sering pasir dan batu, dan itu banyak terjadi pada anak-anak,” ujarnya usai pelayanan kesehatan di Kampung Imbesba dan Inyebo.
Menurutnya, kondisi tersebut diduga berkaitan dengan kebiasaan anak-anak bermain di kali dan kurangnya kebersihan telinga.
“Mungkin karena di sini ada kali, jadi anak-anak sering bermain di air. Selama ini juga kemungkinan telinganya tidak pernah dibersihkan,” katanya.
Meski demikian, seluruh pasien dengan kasus benda asing maupun kotoran telinga telah ditangani langsung di lokasi pelayanan.
“Rata-rata semuanya sudah kami bersihkan sesuai prosedur dan sudah selesai ditangani,” jelasnya.
Selain itu, tim medis juga menemukan sejumlah kasus penurunan pendengaran. Namun, pasien dengan kondisi tersebut perlu dirujuk untuk pemeriksaan lanjutan di fasilitas kesehatan yang memiliki alat audiometri.
“Untuk kasus penurunan pendengaran memang tidak bisa diselesaikan di kampung. Harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di kota menggunakan alat khusus tes pendengaran,” tambahnya.
Sementara itu, di Kampung Imbesba dan Inyebo, kasus yang paling dominan ditemukan adalah otitis media akut atau radang telinga tengah.
“Aspek geografis kemungkinan menjadi salah satu faktor. Karena daerah pegunungan membuat saluran di belakang telinga lebih mudah tertutup, sehingga sirkulasi antara telinga, hidung, dan tenggorokan menjadi tidak seimbang,” terang dr. Asmawati.
Ia menyebutkan sekitar 80 persen kasus THT yang ditemukan di dua kampung tersebut merupakan otitis media akut.
Pelaksanaan PKB Dinkes Papua Batat di Distrik Membey, Kabupaten Pegunungan Arfak, ratusan warga dari berbagai kelompok usia memadati lokasi pelayanan untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan. Mulai dari anak-anak, ibu hamil, hingga orang dewasa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memeriksakan kondisi kesehatannya.
Berbagai jenis layanan kesehatan diberikan secara langsung kepada masyarakat, meliputi pemeriksaan kolesterol, gula darah, asam urat, tes malaria, hingga pengukuran tinggi dan berat badan, lingkar perut, serta lingkar lengan guna menilai status gizi warga.
Pelayanan dilakukan dengan sistem jemput bola, di mana tim medis turun langsung ke kampung-kampung untuk menjangkau masyarakat yang selama ini memiliki keterbatasan akses menuju fasilitas kesehatan. (ALW/ON).




