Orideknews.com, Manokwari, – Pemerintah Provinsi Papua Barat memperkuat kewaspadaan terhadap peningkatan kasus campak rubella dengan mengacu pada Surat Edaran Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/C/1077/2026 tentang kewaspadaan dini terhadap peningkatan kasus dan kejadian luar biasa (KLB) campak, serta Surat Dinas Kesehatan Papua Barat Nomor 400.7.7.1/0400/DK-PB/IV/2026 tertanggal 8 April 2026.
Kejadian luar biasa campak rubella dilaporkan terjadi di Kabupaten Teluk Wondama setelah hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya kasus positif. Dari 15 pasien yang teridentifikasi, sebanyak sembilan sampel dikirim untuk pemeriksaan di Makassar dan enam di antaranya dinyatakan positif.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Wondama, dr. Alberth S. Kapitarauw, Sp.B., FINACSmenjelaskan berdasarkan hasil tersebut, status kejadian ditetapkan sebagai KLB sesuai ketentuan Kementerian Kesehatan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Wondama kata Alberth, kemudian merekomendasikan penetapan status KLB kepada Bupati Teluk Wondama, yang selanjutnya menerbitkan Surat Keputusan penetapan KLB.
Ia mengaku, setelah penetapan status tersebut, pihaknya segera berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat untuk melakukan langkah penanganan cepat.
“Teman-teman dari Dinas Kesehatan Provinsi bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Wondama bergerak cepat selama hampir delapan hari. Mereka melakukan promosi kesehatan serta langkah preventif kepada masyarakat di wilayah kerja puskesmas yang terdampak,” ujarnya melalui sambungan telepon, Kamis, (30/4/26).
Ia mengatakan, berkat intervensi tersebut, capaian penanganan telah mencapai hampir 99 persen sehingga status wilayah kini berangsur turun dari KLB menjadi status waspada.
“Kami berharap dalam enam minggu ke depan tidak muncul kasus baru, sehingga status ini tidak perlu diperpanjang. Selama periode evaluasi tersebut, upaya promotif dan preventif akan terus dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten,” tuturnya.
Sementara itu, Pengelola Program Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, Hendrik Marisan, S.KM., M.KM, mengaku perkembangan pelaksanaan kegiatan Outbreak Response Immunization (ORI) Campak Rubella yang berlangsung pada 21–30 April 2026 di Kabupaten Teluk Wondama dan Kabupaten Fakfak sebagai bagian dari penanggulangan KLB campak.
Berdasarkan hasil pelaksanaan hingga 30 April 2026, Kabupaten Teluk Wondama berhasil mencatatkan capaian imunisasi sebesar 99 persen. Rinciannya, Puskesmas Wasior mencapai 99 persen atau 1.450 dari 1.462 sasaran, sedangkan Puskesmas Wondiboi mencapai 100 persen atau 241 dari 241 sasaran.
Keberhasilan tersebut dinilai sebagai hasil sinergi antara tenaga kesehatan, pemerintah daerah, serta dukungan aktif masyarakat.
“Meskipun capaian telah melampaui target nasional minimal 95 persen, pelayanan imunisasi tetap dilanjutkan untuk memastikan seluruh sasaran yang belum terjangkau segera mendapatkan imunisasi,” kata Hendrik.
Secara keseluruhan, cakupan ORI Campak Rubella di wilayah intervensi Papua Barat mencapai 99 persen dari total 3.115 sasaran.
Berbagai strategi diterapkan dalam pelaksanaan program ini, di antaranya pelayanan imunisasi di posyandu dan fasilitas kesehatan, pelayanan aktif melalui kunjungan rumah (door to door), mobilisasi masyarakat melalui promosi kesehatan, serta koordinasi lintas sektor hingga tingkat kampung.
Pihaknya kata Hendrik, menyampaikan apresiasi kepada seluruh tenaga kesehatan, pemerintah daerah, dan masyarakat yang telah berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan ORI.
“Kami mengapresiasi capaian Kabupaten Teluk Wondama yang telah melampaui target. Namun, upaya imunisasi harus terus dilanjutkan hingga seluruh sasaran benar-benar terlindungi,” ujarnya.
Hendrik juga mengimbau seluruh masyarakat, khususnya orang tua yang memiliki anak usia 9 hingga 59 bulan, agar segera membawa anak mereka ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan imunisasi campak rubella.
Imunisasi dinilai sebagai langkah paling efektif untuk melindungi anak dari penyakit campak yang dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan kematian.
“Kami komitmen untuk terus melakukan pemantauan dan pendampingan hingga seluruh wilayah mencapai cakupan imunisasi optimal serta memastikan tidak terjadi peningkatan kasus campak di Papua Barat,” tambah Hendrik. (ALW/ON).



