Orideknews.com, Manokwari, – Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Papua Barat menyampaikan selamat atas pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Barat, serta Bupati dan Wakil Bupati di seluruh kabupaten. HPI juga menyampaikan harapan besar terkait optimalisasi potensi pariwisata di Provinsi Papua Barat untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Kepala Biro Pelatihan dan Pengembangan SDM DPD HPI Papua Barat, Yansen Saragih memaparkan tiga potensi utama pariwisata yang perlu dioptimalkan.
Pertama, potensi wisata alam, yang menurutnya menjadi sumber PAD terbesar. Keanekaragaman hayati Papua Barat, mulai dari bawah laut hingga pegunungan seperti Pegunungan Arfak dan Pegunungan Anggi dengan burung-burung endemiknya, menarik minat wisatawan mancanegara.
Berdasarkan penelitian HPI, kata Yansen, setiap wisatawan rata-rata menghabiskan Rp10 juta per hari, sehingga dengan target 1.000 wisatawan per hari, potensi PAD bisa mencapai Rp10 miliar.
Saragih mengingatkan pemberdayaan guide lokal melalui peningkatan kapasitas SDM dan sinergitas dengan dinas terkait, seperti Dinas Tenaga Kerja untuk pelatihan dan Dinas Pariwisata untuk promosi yang terarah.
Kedua, Saragih mengingatkan sinergitas antar dinas untuk promosi pariwisata yang efektif. Dia juga mengkritik promosi pariwisata yang seringkali tidak sesuai dengan potensi daerah.
Sebagai contoh, mempromosikan surfing di daerah yang tidak memiliki ombak yang sesuai, padahal potensi burung endemik jauh lebih besar.
HPI berharap Gubernur terpilih dapat memilih figur dan tenaga yang tepat untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk HPI dan ASITA, guna menarik lebih banyak wisatawan. Peningkatan jumlah wisatawan akan berdampak positif pada peningkatan PAD dan penurunan inflasi.
Ketiga, peningkatan pariwisata berbasis masyarakat di tingkat kabupaten/kota. Saragih mencontohkan Kampung Kuau di Manokwari, Kampung Aisandami di Wondama, dan Kampung Lobo di Kaimana sebagai contoh kampung wisata yang perlu terus dikembangkan. Hal ini akan memastikan pendapatan langsung masuk ke daerah.
HPI Papua Barat mencatat keberhasilan mendatangkan dua kapal pesiar hingga Februari 2024, membawa lebih dari 220 wisatawan ke Teluk Wondama dan Manokwari.
Nilai ekonomi dari kunjungan tersebut cukup signifikan, mencapai puluhan juta rupiah per kunjungan, bahkan hingga Rp30 juta per kunjungan di Pulau Mansinam.
HPI menargetkan kedatangan 10-15 kapal pesiar per kabupaten, yang berpotensi menghasilkan PAD hingga miliaran rupiah. Pendapatan tersebut, menurut Saragih, tidak hanya dari biaya wisata, tetapi juga dari belanja oleh-oleh, donasi, dan lain-lain.
Terakhir, Saragih mendorong pengembangan produk souvenir andalan Papua Barat, khususnya kopi Arfak, dengan dukungan dari pihak terkait untuk meningkatkan daya saing produk lokal.
“Saya dorong sekarang itu kopi Arfak, salah satu inisiatornya Bartho Inden, supaya dia punya komoditi kopi itu bisa jadi souvenir andalan kita dari Pegunungan Arfak,” tambah Saragih. (ALW/ON).