
Orideknews.com, MANOKWARI — Sebanyak 643 lowongan pekerjaan dari 28 perusahaan tersedia dalam Job Fair Papua Barat 2026 yang berlangsung di Lapangan Voli Kantor Gubernur Papua Barat, Arfai, Manokwari, 16–18 September 2026.
Job Fair yang digagas Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Papua Barat itu dibuka Wakil Gubernur Papua Barat Mohammad Lakotani, Rabu (16/9/2026), dengan mengusung tema “Membuka Lapangan Kerja dan Mengurangi Angka Pengangguran Orang Asli Papua”.
Wakil Gubernur Mohammad Lakotani menegaskan kegiatan tersebut tidak boleh berhenti sebatas pameran lowongan kerja, tetapi harus menghasilkan penyerapan tenaga kerja secara nyata, terutama bagi tenaga kerja lokal dan Orang Asli Papua (OAP).
“Job Fair ini bukan sekadar kegiatan seremonial dan bukan sekadar pameran lowongan pekerjaan. Kegiatan ini harus menghasilkan penyerapan tenaga kerja secara nyata,” tegas Lakotani.
Menurutnya, persoalan ketenagakerjaan harus dilihat sebagai sebuah ekosistem yang menghubungkan pendidikan, pelatihan dan keterampilan dengan kebutuhan dunia usaha, investasi serta kebijakan pemerintah.
Perusahaan, kata Lakotani, membutuhkan tenaga kerja yang kompeten, disiplin dan produktif. Sementara masyarakat, khususnya generasi muda Papua Barat, membutuhkan akses yang terbuka terhadap informasi serta kesempatan kerja.
Karena itu, ia meminta setiap lowongan yang ditawarkan dalam Job Fair benar-benar merupakan kebutuhan riil perusahaan dan dapat diakses secara terbuka serta transparan oleh masyarakat pencari kerja.
Lakotani juga menekankan pentingnya keberpihakan terhadap tenaga kerja lokal di tengah besarnya potensi investasi Papua Barat pada sektor minyak dan gas, pertambangan, perkebunan, kehutanan, perikanan dan kelautan, pariwisata, konstruksi, perdagangan hingga jasa.
“Kita tidak ingin investasi tumbuh, perusahaan berkembang dan kegiatan ekonomi meningkat, tetapi pada sisi yang lain masyarakat kita hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri,” katanya.
Ia mengajak seluruh perusahaan yang beroperasi maupun berinvestasi di Papua Barat membangun komitmen untuk memberikan ruang lebih besar kepada tenaga kerja lokal, khususnya Orang Asli Papua.
Namun, Lakotani menegaskan keberpihakan tersebut harus tetap berjalan seiring dengan peningkatan kualitas dan kompetensi sumber daya manusia.
“Pemerintah tidak meminta kepada perusahaan untuk mengabaikan asas profesionalisme dan kompetensi. Pemerintah akan membantu menyiapkan program-program dalam rangka meningkatkan kemampuan dan kompetensi tenaga kerja lokal yang ada di Papua Barat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Papua Barat Edward Dowansiba mengatakan Job Fair 2026 menjadi wadah yang mempertemukan secara langsung pencari kerja dengan perusahaan maupun instansi yang membutuhkan tenaga kerja.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari dukungan terhadap program Papua Produktif, khususnya dalam meningkatkan kesempatan kerja dan menekan angka pengangguran di Papua Barat.
“Peserta Job Fair berjumlah 28 perusahaan dengan lowongan pekerjaan sebanyak 643 orang,” kata Edward dalam laporannya.
Menurut Edward, pihaknya telah menyurati sejumlah perusahaan untuk menyampaikan kebutuhan tenaga kerja yang tersedia, termasuk perusahaan yang bergerak pada sektor minyak dan gas seperti LNG Tangguh, BP dan Genting Oil, serta sejumlah perusahaan lainnya.
Selain perusahaan penyedia lowongan kerja, Job Fair Papua Barat 2026 juga melibatkan pelaku UMKM dari Kabupaten Manokwari dan Teluk Bintuni untuk mempromosikan produk mereka.
Edward mengatakan pelaksanaan Job Fair diharapkan dapat memperluas keterbukaan informasi mengenai kesempatan kerja sehingga masyarakat dapat memperoleh informasi lowongan secara transparan dan akuntabel.
Kepada para pencari kerja, khususnya generasi muda Papua Barat, Lakotani mengingatkan bahwa kebutuhan dunia kerja saat ini tidak lagi hanya bertumpu pada ijazah.
Kompetensi, kedisiplinan, integritas, kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama, penguasaan teknologi, kreativitas serta kemauan untuk terus belajar menjadi bagian penting dalam persaingan memasuki dunia kerja.
“Manfaatkan Job Fair ini dengan sebaik-baiknya. Kenali perusahaan yang Saudara minati, pelajari kualifikasi yang dibutuhkan, siapkan dokumen lamaran dengan baik, tunjukkan kemampuan dan kepercayaan diri, serta jangan takut mencoba setiap kesempatan yang tersedia,” pesannya.
Lakotani selanjutnya meminta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta perangkat daerah terkait tidak berhenti melakukan pendataan setelah Job Fair berakhir.
Pemantauan harus dilakukan mulai dari jumlah pencari kerja yang memasukkan lamaran, mengikuti proses seleksi hingga akhirnya diterima dan ditempatkan bekerja.
Ia juga meminta pemerintah membangun sistem informasi pasar kerja Papua Barat yang semakin terintegrasi, sehingga masyarakat dapat memperoleh informasi lowongan pekerjaan secara cepat, mudah, transparan dan berkelanjutan.
Selain itu, kerja sama antara pemerintah, perusahaan, perguruan tinggi, lembaga pelatihan serta lembaga sertifikasi profesi dinilai perlu diperkuat untuk menyusun program pendidikan dan pelatihan berdasarkan kebutuhan riil dunia kerja.
“Proses rekrutmen harus dilakukan secara terbuka, transparan, profesional dan bebas dari praktik-praktik yang merugikan pencari kerja,” tegas Lakotani.
Ia meminta setelah Job Fair Papua Barat 2026 berakhir dilakukan evaluasi secara terukur, mulai dari jumlah lowongan yang ditawarkan, jumlah pencari kerja yang mendaftar dan mengikuti seleksi hingga jumlah tenaga kerja yang akhirnya diterima perusahaan. (ALW/ON)
