Orideknews.com, MANOKWARI SELATAN – Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat tidak hanya menghadirkan layanan pengobatan dalam kegiatan Pelayanan Kesehatan Bergerak (PKB) di Distrik Isim, Kabupaten Manokwari Selatan.
Melalui Bidang Pelayanan Kesehatan, masyarakat juga dibekali keterampilan memanfaatkan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan teknik akupresur sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemandirian keluarga dalam menjaga kesehatan.
Kegiatan yang berlangsung pada 2–5 Agustus 2026 tersebut menjadi bagian dari strategi Pemerintah Provinsi Papua Barat memperluas akses pelayanan kesehatan, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil dan sulit menjangkau fasilitas kesehatan.
PKB dipusatkan di sejumlah kampung, yakni Isim, Tubes, Duhugesa, Umusi, Dibera, Inyuara, dan Tahosta. Pada hari pertama, tim kesehatan memberikan pelayanan di Kampung Duhugesa, Umusi, Dibera, dan Inyuara.
Dalam dua hari, tim PKB tercatat melayani sebanyak 413 pasien dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, ibu hamil hingga masyarakat dewasa.
Selain pemeriksaan kesehatan, masyarakat juga mendapatkan edukasi mengenai pemanfaatan tanaman obat yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar serta pelatihan akupresur untuk membantu menangani keluhan kesehatan ringan.
Kegiatan pemberdayaan masyarakat tersebut diprakarsai Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Papua Barat dan dipimpin Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Tradisional (Kestrad), Eli Kasy, S.Sos.
Staf terlatih UPTD Puskesmas Amban, Kabupaten Manokwari, Sarnita Arung Padang, A.Md.Kep, bersama Analis Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Papua Barat, Novia Elma Ulpa Heluth, S.Kep, memberikan penyuluhan sekaligus praktik kepada para kader kampung dengan didampingi Kepala Seksi Kestrad.
Sarnita mengatakan, pemberdayaan kader dilakukan agar mereka dapat menjadi perpanjangan tangan informasi kesehatan bagi masyarakat di kampung.
“Tujuan kami turun langsung ke masyarakat adalah memberdayakan kader agar memiliki keterampilan dalam memanfaatkan tanaman obat keluarga,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu tanaman yang banyak ditemukan di wilayah tersebut adalah jahe. Tanaman ini dapat diolah menjadi minuman jahe instan yang dapat dikonsumsi untuk menjaga kebugaran dan menghangatkan tubuh serta membantu meredakan sejumlah keluhan ringan.
Selain pemanfaatan TOGA, para kader juga mendapatkan pelatihan teknik akupresur melalui praktik langsung. Mereka diajarkan melakukan penekanan pada titik-titik tertentu di kepala yang dapat membantu mengurangi keluhan sakit kepala.
“Kami berharap kader dapat meneruskan pengetahuan ini kepada masyarakat sehingga semakin banyak keluarga mampu menangani keluhan kesehatan ringan secara mandiri dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang tersedia di sekitar mereka,” katanya.
Menurut Sarnita, pemanfaatan TOGA dan keterampilan akupresur dapat menjadi salah satu pilihan penanganan awal untuk keluhan ringan, dengan tetap memperhatikan keamanan dan kondisi kesehatan masyarakat.
Dalam penyuluhan tersebut, masyarakat diperkenalkan dengan berbagai tanaman obat yang mudah ditemukan, seperti jahe, daun jambu biji, serai, kunyit, dan daun sirih.
Tim juga mengenalkan sejumlah tanaman yang dikenal dan dimanfaatkan masyarakat di Papua Barat, di antaranya daun gedi, sambiloto, akway, daun pepaya, serta buah merah.
Sementara itu, Novia Elma Ulpa Heluth mengatakan, kegiatan tersebut merupakan pendekatan yang mengintegrasikan pelayanan kesehatan tradisional ke dalam Pelayanan Kesehatan Bergerak sehingga edukasi dapat diterima langsung oleh masyarakat.
Menurutnya, selama ini pelayanan kesehatan tradisional lebih banyak berfokus pada pelatihan, koordinasi, monitoring, evaluasi, serta pembagian bibit tanaman obat kepada pengelola program di puskesmas.
“Melalui kegiatan ini, edukasi diberikan langsung kepada masyarakat dengan melibatkan kader kampung sebagai sasaran utama,” ujarnya.
Ia mengatakan, para kader dibekali pengetahuan mengenai pemanfaatan TOGA, pembuatan obat tradisional instan sederhana, serta teknik akupresur untuk membantu penanganan keluhan kesehatan ringan di lingkungan keluarga.
“Kader dibekali pengetahuan mengenai pemanfaatan TOGA, pembuatan obat tradisional instan sederhana, serta teknik akupresur untuk membantu penanganan keluhan kesehatan ringan secara aman di lingkungan keluarga,” katanya.
Novia berharap kader yang telah mendapatkan pelatihan dapat menjadi agen edukasi kesehatan di kampung masing-masing sehingga pengetahuan tersebut dapat diteruskan kepada masyarakat secara lebih luas.
Program ini merupakan implementasi pengembangan pelayanan kesehatan tradisional melalui Asuhan Mandiri Pemanfaatan TOGA dan Keterampilan Akupresur sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2016.
“Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin mandiri menjaga kesehatan keluarga dengan memanfaatkan potensi lokal yang tersedia di lingkungan sekitar, sekaligus memperkuat upaya promotif dan preventif,” kata Novia.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Seksi Kestrad Eli Kasy juga menyerahkan bibit tanaman obat kepada masyarakat di Distrik Isim sebagai bagian dari upaya mendorong pemanfaatan TOGA secara berkelanjutan di tingkat keluarga.
Sementara itu, dalam pelaksanaan PKB, tim kesehatan memberikan berbagai layanan pemeriksaan, mulai dari tekanan darah, kolesterol, gula darah, asam urat, tes malaria, hingga pengukuran tinggi badan, berat badan, lingkar perut, dan lingkar lengan atas untuk menilai status gizi masyarakat.
Pelayanan juga melibatkan tenaga kesehatan lintas bidang serta sejumlah dokter spesialis, yakni dokter spesialis anak dr. Maria C.H. Warwe, Sp.A, dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorok dr. Asmawati Adnan, Sp.T.H.T.K.L, serta dr. Siti R. Saifoeddin, MPH, dr. Fransiska R. Liling, Sp.PD, dan dr. Nur Wahida. (ALW/ON).