BerandaManokwariWorkshop YPK Bekali Kepala Sekolah dan Guru Wujudkan Pendidikan Berbasis Data di...

Workshop YPK Bekali Kepala Sekolah dan Guru Wujudkan Pendidikan Berbasis Data di Manokwari

- Advertisement -spot_img

Orideknews.com, MANOKWARI, Pengelola Sekolah Wilayah (PSW) Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Kabupaten Manokwari menggelar Workshop Transformasi Mutu Pendidikan Sekolah YPK Kabupaten Manokwari melalui Perencanaan Berbasis Data dan Pembelajaran Mendalam di Aula SMA YPK Oikumene, Jalan Merapi, Fanindi.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Selasa (28/7/2026) hingga Rabu (29/7/2026), diikuti kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan dari jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA di lingkungan PSW YPK Kabupaten Manokwari.

Ketua Panitia Pelaksana, Anthonius Allo, S.Pd, mengatakan workshop tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan di sekolah-sekolah YPK melalui pemanfaatan data sebagai dasar perencanaan, penguatan kurikulum, serta peningkatan kualitas pembelajaran.

Menurutnya, terdapat empat tujuan utama yang ingin dicapai dalam kegiatan tersebut, yakni mengidentifikasi dan menganalisis Rapor Pendidikan, menyusun dan menyempurnakan Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP), menyusun modul ajar beserta perangkat pembelajaran, serta membangun budaya perbaikan mutu secara berkelanjutan di lingkungan sekolah.

“Melalui workshop ini kami ingin mendorong setiap satuan pendidikan mampu melakukan refleksi berdasarkan data, menyusun perencanaan yang tepat sasaran, dan menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna bagi peserta didik,” ujar Anthonius.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat, khususnya Gubernur Papua Barat, atas dukungan pendanaan melalui Dinas Pendidikan Provinsi Papua Barat sehingga kegiatan tersebut dapat terselenggara.

Koordinator Wilayah Badan Pengurus (BP) YPK Provinsi Papua Barat, Drs. Arius Mofu, M.Pd Dalam arahannya, Arius menyatakan bahwa YPK saat ini tengah menjalankan reformasi dan transformasi menyeluruh dalam tata kelola pendidikan guna meningkatkan kualitas layanan pendidikan Kristen di Tanah Papua.

Salah satu perubahan penting yang disampaikan adalah penyatuan tiga yayasan pendidikan menjadi satu lembaga, yakni YPK Tanah Papua. Tiga yayasan yang sebelumnya berdiri sendiri, yaitu YPK, yayasan yang menaungi STKIP, dan Yayasan Universitas Ottouw Geisler, kini berada dalam satu wadah kelembagaan.

“Kalau sebelumnya kita mengenal istilah YPK di Tanah Papua, sekarang kata ‘di’ dihilangkan menjadi YPK Tanah Papua. Ini merupakan perubahan terbaru yang perlu diketahui bersama agar ke depan kita menggunakan nomenklatur yang benar,” kata Arius.

Menurut Arius, transformasi tersebut tidak hanya menyangkut perubahan nama, tetapi juga perubahan pola kerja dan budaya organisasi agar lebih profesional, adaptif, dan mampu menjawab tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang.

Ia menjelaskan, terdapat tiga fokus utama yang menjadi arah transformasi YPK, yakni memperbaiki tata kelola lembaga pendidikan, meningkatkan kompetensi kepala sekolah dan tenaga pendidik di semua jenjang, serta mengembangkan pembelajaran berdiferensiasi yang didasarkan pada data yang akurat.

“Untuk mewujudkan pembelajaran berdiferensiasi, kita harus memiliki data yang baik. Semua program dan kegiatan harus dirancang berdasarkan data sehingga kebijakan yang diambil benar-benar menjawab kebutuhan sekolah dan peserta didik,” tegasnya.

Arius juga mengingatkan pentingnya kedisiplinan dan kepemimpinan kepala sekolah. Menurutnya, Pengelola Sekolah Wilayah bersama pengawas dari Dinas Pendidikan akan terus melakukan evaluasi terhadap kinerja setiap kepala satuan pendidikan.

“Jangan lagi datang terlambat, pulang lebih cepat. Kalau memang tidak mampu menunjukkan kinerja yang baik, tentu akan dilakukan evaluasi. Masih banyak sumber daya yang memiliki kemampuan untuk memimpin sekolah-sekolah kita,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Barat, Dr. Barnabas Dowansiba, M.Pd, menyatakan bahwa transformasi mutu pendidikan harus dimulai dari perencanaan yang didasarkan pada data yang valid. Menurutnya, setiap kebijakan pendidikan tidak boleh dibangun hanya berdasarkan harapan atau asumsi, tetapi harus bertumpu pada kondisi nyata yang dimiliki sekolah.

Ia menjelaskan bahwa kepala sekolah perlu memiliki data yang akurat mengenai kondisi satuan pendidikan, sementara guru harus memahami data perkembangan setiap peserta didik, terutama bagi siswa yang membutuhkan perhatian dan pendampingan khusus.

“Jangan membangun mimpi tanpa data. Kalau data tidak ada, jangan memberikan harapan yang terlalu tinggi. Guru juga harus mengetahui kemampuan setiap anak sehingga dapat memberikan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujarnya.

Barnabas menilai keberhasilan transformasi pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan. Karena itu, kepala sekolah harus menjadi teladan bagi guru, sebagaimana kepemimpinan Yesus Kristus yang mengajar melalui tindakan dan keteladanan, bukan sekadar memberikan perintah.

Menurutnya, seorang kepala sekolah tidak dapat menuntut guru disiplin, menguasai teknologi informasi, atau terus meningkatkan kompetensi apabila dirinya sendiri tidak menunjukkan sikap yang sama.

“Kepala sekolah harus berubah lebih dulu. Jangan menuntut guru menguasai IT kalau kepala sekolah sendiri tidak mau belajar. Kepemimpinan dimulai dari keteladanan,” tegasnya.

Selain kepemimpinan, Barnabas juga mengajak seluruh pendidik untuk melakukan transformasi diri melalui evaluasi terhadap kompetensi dan tanggung jawab sebagai guru maupun kepala sekolah. Ia mendorong para pendidik terus meningkatkan kemampuan, memperdalam penguasaan materi, serta aktif berbagi pengalaman melalui forum-forum profesional seperti Kelompok Kerja Guru (KKG).

Dalam kesempatan tersebut, Barnabas juga menyoroti pentingnya perubahan paradigma pembelajaran. Menurutnya, guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber informasi, melainkan menjadi fasilitator yang mendorong peserta didik berpikir kritis, berinisiatif, dan berani mengemukakan pendapat.

Guru, kata dia, juga perlu memberikan apresiasi terhadap setiap usaha siswa meskipun jawaban yang disampaikan belum sepenuhnya benar. Pendekatan tersebut diyakini mampu membangun kepercayaan diri peserta didik dan menciptakan suasana belajar yang lebih positif.

Ia turut mengingatkan para kepala sekolah untuk menerapkan filosofi kepemimpinan Tut Wuri Handayani, yakni mampu menempatkan diri secara tepat dalam memimpin organisasi, baik saat berada di depan memberikan teladan, di tengah membangun kerja sama, maupun di belakang untuk memberikan motivasi kepada seluruh warga sekolah.

Selain itu, Barnabas mengingatkan agar dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dimanfaatkan secara efektif, transparan, dan tepat sasaran untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan di setiap satuan pendidikan.

“Workshop ini, diharapkan mampu membangun budaya kerja yang berbasis data, memperkuat kepemimpinan yang melayani, serta menghadirkan pembelajaran yang lebih berkualitas demi mencetak generasi Papua yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing,” pesan Barnabas. (ALW/ON).

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini