Orideknews.com, MANOKWARI, – Pasien dengan Diabetes Mellitus (DM) memiliki risiko lebih tinggi mengalami Tuberkulosis (TB), baik sebagai infeksi baru maupun akibat reaktivasi TB laten. Selain lebih mudah terinfeksi, penderita diabetes juga berpotensi mengalami TB yang lebih berat, lebih sulit disembuhkan, hingga meningkatkan risiko kematian.
Hal tersebut disampaikan dokter spesialis penyakit dalam, dr. Fany Oktarina, Sp.PD, saat menyampaikan materi dalam Webinar Online Penguatan Layanan TBC Sensitif Obat (SO), Kolaborasi TBC-HIV, serta Akselerasi Pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) yang digelar secara virtual melalui Zoom Meeting, Sabtu (18/7/2026).
Webinar ini turut diikuti Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, dr. Alwan Rimosan, Kepala Bidan P2P, Frans Abidondifu, Kepala Seksi P2P, Owira Indou dan sejumlah staf Dinkes Papua Barat.
Dalam paparannya, dr. Fany menjelaskan bahwa sistem kekebalan tubuh penderita diabetes sebenarnya masih bekerja, namun fungsinya menurun sehingga tidak mampu melawan kuman TB secara optimal.
“Pada pasien diabetes, sistem imun itu ada, tetapi responsnya menurun atau menjadi tumpul. Akibatnya tubuh lebih rentan terkena infeksi baru maupun mengalami reaktivasi TB laten yang sebelumnya sudah pernah diobati,” jelasnya.
Ia mengatakan, keberhasilan pengobatan TB juga sangat dipengaruhi kepatuhan pasien mengonsumsi obat hingga tuntas. Menurutnya, pengobatan yang tidak teratur atau tidak optimal dapat menyebabkan sebagian bakteri TB tetap bertahan dalam kondisi laten dan sewaktu-waktu aktif kembali, terutama ketika penderita mengalami diabetes.
“Di lapangan sering dijumpai pasien diabetes yang memiliki riwayat TB, kemudian kembali menderita TB. Hal ini bisa terjadi karena reaktivasi infeksi laten maupun infeksi baru,” ujarnya.
Menurut dr. Fany, kombinasi TB dan diabetes menjadi tantangan tersendiri karena kedua penyakit tersebut saling memperburuk kondisi pasien. Diabetes yang tidak terkontrol menyebabkan daya tahan tubuh menurun sehingga pengobatan TB menjadi lebih sulit, sementara infeksi TB juga dapat memperburuk pengendalian kadar gula darah.
Ia menyebut, pasien TB dengan diabetes memiliki peluang lebih besar mengalami kegagalan pengobatan dibandingkan pasien TB tanpa diabetes. Kondisi tersebut dipengaruhi gangguan respons imun adaptif yang menyebabkan inflamasi kronis serta pembentukan granuloma yang tidak optimal.
Selain itu, sejumlah faktor meningkatkan risiko seseorang mengalami TB-DM, di antaranya usia yang lebih tua, tinggal di wilayah perkotaan dengan pola hidup kurang aktif, kebiasaan merokok, obesitas, gaya hidup sedentari, serta kontrol gula darah yang buruk.
“Pasien dengan kadar gula darah yang tinggi lebih sering menunjukkan gejala TB. Karena itu pengendalian glikemik menjadi bagian penting dalam keberhasilan terapi,” katanya.
Dalam tata laksana pengobatan, dr. Fany menjelaskan bahwa prinsip terapi TB pada pasien diabetes pada dasarnya sama dengan pasien lainnya. Namun pada sejumlah kasus, durasi pengobatan dapat diperpanjang hingga delapan sampai sembilan bulan apabila respons terapi belum optimal.
Ia juga mengingatkan tenaga kesehatan untuk mewaspadai efek samping obat anti tuberkulosis pada pasien diabetes. Penggunaan etambutol, misalnya, dapat memperburuk gangguan penglihatan akibat retinopati diabetik, sedangkan isoniazid (INH) dapat meningkatkan risiko neuropati perifer sehingga pasien dianjurkan memperoleh suplementasi vitamin B6 (piridoksin).
Selain itu, interaksi antara rifampisin dengan beberapa obat antidiabetes golongan sulfonilurea juga perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi efektivitas terapi. Oleh sebab itu, pengaturan waktu konsumsi obat maupun pemilihan terapi diabetes perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Pada kesempatan tersebut, dr. Fany juga mengingatkan tuberkulosis tidak hanya menyerang paru-paru. Penyakit ini dapat menyerang hampir seluruh organ tubuh atau dikenal sebagai TB ekstra paru.
“TB bisa mengenai tulang, sendi, kelenjar getah bening, saluran cerna, saluran kemih, kulit hingga susunan saraf pusat. Keluhan seperti nyeri tulang belakang berkepanjangan, pembengkakan sendi, atau gangguan pada organ lain juga perlu dicurigai sebagai TB ekstra paru, terutama pada pasien diabetes maupun HIV,” jelasnya.
Ia menyatakan bahwa deteksi dini, pengobatan yang tuntas, pengendalian diabetes, serta kolaborasi layanan TB dan penyakit penyerta menjadi kunci dalam meningkatkan keberhasilan pengobatan sekaligus menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat tuberkulosis. (ALW/ON).