Orideknews.com, MANOKWARI, – Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat melalui Seksi Pelayanan Kesehatan Tradisional, Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes) melaksanakan kegiatan pemberdayaan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan akupresur yang terintegrasi dengan program Pelayanan Kesehatan Bergerak (PKB) di Distrik Mokwam, Kabupaten Manokwari, pada 15–20 Mei 2026.
Kegiatan yang dilaksanakan di Kampung Kipuwau ini merupakan rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan di Kampung Syou, Amber, dan Kampung Aserbey Distrik Mokwam ini menjadi langkah awal bagi Seksi Pelayanan Kesehatan Tradisional untuk turun langsung ke lapangan memberikan pelayanan sekaligus edukasi kepada masyarakat.
Kegiatan yang dilaksanakan di Kampung Kipuwau ini bertujuan membekali kader kampung dengan keterampilan dasar dalam memanfaatkan tanaman obat tradisional untuk mengatasi keluhan kesehatan ringan secara mandiri di lingkungan keluarga.
Staf terlatih UPTD Puskesmas Amban, Dinas Kesehatan kabupaten Manokwari, Sarnita Arung Padang, A Md. Kep usai memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengatakan, pendekatan ini dilakukan agar kader kampung dapat menjadi perpanjangan tangan informasi kesehatan di tengah masyarakat.
“Tujuan kami turun langsung ke masyarakat, khususnya di Kampung Kipuwau ini, adalah memberdayakan kader-kader yang ada di kampung agar mereka memiliki keterampilan dalam memanfaatkan tanaman obat keluarga,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu tanaman yang banyak ditemukan di wilayah tersebut adalah jahe, yang memiliki potensi besar untuk diolah menjadi minuman kesehatan instan.
Menurutnya, jahe dapat dimanfaatkan untuk menjaga kebugaran tubuh, menghangatkan badan, meredakan sakit kepala, pusing, hingga membantu mengatasi keluhan ringan lainnya.
“Khusus di daerah sini banyak terdapat tanaman jahe. Itu bisa diolah menjadi minuman instan jahe yang bermanfaat untuk menjaga kebugaran tubuh dan membantu meredakan keluhan seperti sakit kepala atau pusing,” jelasnya.
Selain edukasi pemanfaatan TOGA, tim kesehatan juga memberikan pelatihan teknik akupresur kepada para kader, khususnya ibu-ibu, melalui praktik langsung penekanan pada titik-titik tertentu di tubuh untuk membantu meredakan gejala kesehatan ringan.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta diajarkan teknik penekanan di beberapa titik pada bagian kepala untuk membantu mengurangi rasa sakit kepala yang cukup banyak dikeluhkan masyarakat setempat.
“Kebanyakan masyarakat di sini mengeluhkan sakit kepala. Karena itu, kami mengajarkan teknik akupresur dengan menekan beberapa titik tertentu di kepala untuk membantu mengurangi rasa sakit,” katanya.
Ia berharap pengetahuan yang diberikan tidak berhenti pada para kader, melainkan dapat diteruskan kepada masyarakat luas sehingga semakin banyak keluarga yang mampu menangani masalah kesehatan ringan secara mandiri dengan memanfaatkan bahan alami di sekitar mereka.
“Harapan kami, kader bisa menyampaikan kembali informasi ini kepada masyarakat sehingga mereka bisa mengatasi masalah kesehatan ringan dengan bahan-bahan tradisional yang tersedia di lingkungan sekitar,” ujarnya.
Ia menekankan, pemanfaatan TOGA dan akupresur merupakan alternatif pengobatan sederhana yang dapat dilakukan sebelum masyarakat memilih mengonsumsi obat-obatan kimia.
“Jadi kalau badan kurang enak atau sakit kepala ringan, masyarakat tidak harus langsung membeli obat kimia. Mereka bisa memanfaatkan sumber daya alam seperti jahe dan melakukan teknik akupresur untuk mengatasinya,” tambahnya.
Dalam materi penyuluhan, Dinas Kesehatan juga memperkenalkan berbagai tanaman obat yang dapat dimanfaatkan masyarakat, seperti jahe untuk menghangatkan badan dan meredakan mual, daun jambu biji untuk diare ringan, serai untuk mengurangi pegal dan kembung, kunyit untuk mengatasi maag ringan, serta daun sirihsebagai antiseptik alami.
Selain itu, diperkenalkan pula sejumlah tanaman khas Papua Barat yang memiliki manfaat kesehatan, seperti daun gedi, sambiloto, akway, daun pepaya, dan buah merah.
Program ini merupakan bagian dari penguatan pelayanan kesehatan tradisional yang diinisiasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat melalui kampanye “Sehat Alami dari Rumah Kita”.
“Harapnya masyarakat semakin mandiri dalam menjaga kesehatan keluarga dengan memanfaatkan potensi alam sekitar secara aman, tepat, dan berkelanjutan,” pesan Sarnita.
Sebelumnya, Staf Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, Novia Elma Ulpa Heluth, S.Kep, selaku Analis Bidang Pelayanan Kesehatan, mengatakan pelaksanaan perdana dimulai di Kampung Syou sebagai bagian dari pendekatan baru yang lebih menyentuh masyarakat secara langsung.
“Kegiatan pemberdayaan TOGA dan akupresur yang terintegrasi dengan Pelayanan Kesehatan Bergerak di Distrik Mokwam ini menjadi kegiatan pertama kami turun langsung ke lapangan untuk memberikan pelayanan sekaligus pemberdayaan kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurut Novia, selama ini kegiatan pelayanan kesehatan tradisional lebih banyak berfokus pada pelatihan, pertemuan koordinasi, monitoring dan evaluasi penyelenggaraan pelayanan kesehatan tradisional di tingkat kabupaten, serta pembagian bibit tanaman obat dan media edukasi kepada pengelola program pelayanan kesehatan tradisional di tingkat Puskesmas.
Namun kali ini, pendekatan yang dilakukan diarahkan langsung kepada masyarakat dengan melibatkan kader kampung sebagai sasaran utama edukasi dan pemberdayaan.
Dalam kegiatan tersebut, para kader mendapatkan edukasi mengenai pemanfaatan TOGA, pembuatan obat tradisional instan sederhana, serta teknik akupresur untuk membantu penanganan keluhan kesehatan ringan secara mandiri dan aman di lingkungan keluarga.
Pihaknya berharap, para kader dapat menjadi perpanjangan tangan informasi kesehatan di kampung masing-masing, sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat diteruskan kepada masyarakat secara luas.
Program ini juga merupakan bagian dari implementasi kebijakan pemerintah dalam pengembangan pelayanan kesehatan tradisional, khususnya Asuhan Mandiri Pemanfaatan TOGA dan Keterampilan Akupresur, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2016.
“Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin mandiri dalam menjaga kesehatan keluarga dengan memanfaatkan potensi lokal yang tersedia di sekitar lingkungan tempat tinggal, sekaligus memperkuat upaya promotif dan preventif di wilayah Distrik Mokwam,” tambah Novia.
Sementara itu, program Pelayanan Kesehatan Bergerak yang digelar Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat di Distrik Mokwam menghadirkan tim tenaga kesehatan lintas bidang, termasuk sejumlah dokter spesialis, yakni dr. Maria C.H. Warwe, Sp.A selaku dokter spesialis anak dan dr. Asmawati Adnan, Sp.T.H.T.K.L selaku dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorok (THT). (ALW/ON)




