Orideknews.com, MANOKWARI, – Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat memanfaatkan momentum Pelayanan Kesehatan Bergerak (PKB) di Distrik Mokwam, Kabupaten Manokwari, untuk menyosialisasikan program unggulan Papua Barat Sehatkepada masyarakat setempat.
Kegiatan yang berlangsung pada 15–20 Mei 2026 di Kampung Syou, Asarbey, dan Amber itu merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Papua Barat dalam memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah terpencil sekaligus memastikan warga mengetahui manfaat program kesehatan gratis yang disiapkan pemerintah daerah.
Pelayanan kesehatan tersebut melibatkan tim tenaga kesehatan lintas bidang dan menghadirkan sejumlah dokter spesialis, di antaranya dr. Maria C.H. Warwe, Sp.A selaku dokter spesialis anak, dr. Asmawati Adnan, Sp.T.H.T.K.L selaku dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorok (THT), dr. Siti R. Saifoeddin, MPH serta dr.Amelya Matasik.
Selama pelaksanaan pelayanan di tiga kampung tersebut, ratusan warga dari berbagai kelompok usia memadati lokasi pelayanan untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan, mulai dari anak-anak, ibu hamil, hingga orang dewasa.
Berbagai layanan kesehatan diberikan secara langsung, meliputi pemeriksaan kolesterol, gula darah, asam urat, tes malaria, hingga pengukuran tinggi badan, berat badan, lingkar perut, dan lingkar lengan guna menilai status gizi warga.
Pelayanan dilakukan dengan sistem jemput bola, di mana tim medis turun langsung ke kampung-kampung guna menjangkau masyarakat yang selama ini memiliki keterbatasan akses menuju fasilitas kesehatan.
Di sela pelayanan, dr. Siti R. Saifoeddin, MPH yang juga menjabat sebagai Kepala Seksi Layanan Kesehatan Primer Dinas Kesehatan Papua Barat, menemukan sejumlah warga yang memerlukan penanganan lanjutan melalui sistem rujukan.
Ia pun mengimbau masyarakat agar segera melapor ke puskesmas atau RSUD Kabupaten Manokwari untuk selanjutnya dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat agar dapat memanfaatkan Program Papua Barat Sehat.
“Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur punya program yang bisa bapak dorang manfaatkan, namanya Program Papua Barat Sehat. Program ini sudah berjalan sejak tahun 2025 lalu,” ujar dr. Siti saat memberikan pelayanan kepada warga Kampung Syou.
Ia menjelaskan, program tersebut mulai berjalan efektif sejak November 2025, setelah pemerintah provinsi merampungkan seluruh regulasi teknis pelaksanaannya.
“Walaupun baru efektif November, tetapi layanan kesehatan yang sifatnya penyelamatan nyawa sudah kami tangani lebih awal dengan pertanggungjawaban penuh pemerintah daerah,” katanya.
Menurutnya, Program Papua Barat Sehat tidak hanya membiayai tindakan medis dan operasi, tetapi juga menanggung kebutuhan keluarga yang mendampingi pasien selama menjalani perawatan di rumah sakit.
Program ini didanai melalui alokasi dana otonomi khusus sebesar Rp50 miliar, yang diperuntukkan bagi penanganan 21 jenis penyakit yang belum sepenuhnya ditanggung melalui skema BPJS Kesehatan.
“Program ini bertujuan menjamin akses pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya Orang Asli Papua yang kurang mampu,” ujarnya.
Saat ini, terdapat 10 rumah sakit yang menjadi mitra layanan Program Papua Barat Sehat, yakni RSUP Papua Barat, RSUD Manokwari, RSUD Fakfak, RSUD Kaimana, RSUD Teluk Bintuni, RSUD Teluk Wondama, RSUD Manokwari Selatan, RS TNI Angkatan Laut Azhar Zahir Manokwari, RS TNI Angkatan Darat Johanis Abraham Dimara Manokwari, serta RS Bhayangkara Lodewijk Mandacan Polda Papua Barat.
Selain itu, layanan rujukan juga dapat dilakukan ke rumah sakit rujukan nasional di luar Papua Barat. Penerima manfaat diprioritaskan bagi Orang Asli Papua (OAP) yang kurang mampu, memiliki KTP Papua Barat, dan terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.
Sebelumnya, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Papua Barat, Thomas O. Shagawari, mengungkapkan realisasi anggaran Program Papua Barat Sehat terus menunjukkan progres positif pada awal 2026.
Hingga April 2026, realisasi anggaran yang telah dipertanggungjawabkan mencapai Rp3,34 miliar, sementara total serapan anggaran secara keseluruhan telah menembus sekitar Rp5,3 miliar.
“Yang sudah SPJ itu Rp3,3 miliar. Kemarin kita juga sudah keluarkan Rp2 miliar lagi, hanya saja administrasinya masih berproses. Jadi total serapan sebenarnya sudah sekitar Rp5,3 miliar,” ujarnya.
Thomas optimistis realisasi anggaran akan meningkat signifikan hingga akhir tahun seiring semakin siapnya sistem layanan dan semakin luasnya publikasi program.
Ia menegaskan bahwa Program Papua Barat Sehat bukan pengganti BPJS Kesehatan, melainkan sebagai pelengkap untuk menanggung biaya layanan yang tidak tercover.
“Kalau ada biaya yang tidak ditanggung BPJS, maka itu bisa ditanggung melalui Papua Barat Sehat. Jadi ini saling melengkapi untuk memastikan masyarakat tetap mendapat layanan kesehatan yang layak,” ucapnya.
Program Papua Barat Sehat sendiri merupakan salah satu dari tiga program unggulan Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan dan Wakil Gubernur Mohamad Lakotani, bersama Papua Barat Cerdas dan Papua Barat Produktif, dengan total dukungan anggaran sebesar Rp150 miliar yang dialokasikan masing-masing Rp50 miliaruntuk setiap program. (ALW/ON).



