Orideknews.com, Manokwari Selatan – Potensi komoditas kakao di Kabupaten Manokwari Selatan dinilai sangat besar, namun hingga kini belum dikelola secara optimal untuk memberikan nilai ekonomi maksimal bagi masyarakat maupun daerah.
Hal tersebut disampaikan Anggota Pokja Papua Produktif BP3OKP RI Perwakilan Papua Barat, Viktor L. Towansiba, usai forum pembahasan pembangunan daerah di Manokwari Selatan.
Menurut Viktor, kakao merupakan salah satu komoditas unggulan yang memiliki nilai historis kuat bagi daerah tersebut, bahkan telah menjadi bagian dari identitas ekonomi masyarakat sejak puluhan tahun silam.
Ia menjelaskan, pengembangan kakao di wilayah Ransiki telah berlangsung sejak era 1950-an dan sempat mencapai masa kejayaan ketika dikelola oleh PT Coklat Ransiki (Cokran), perusahaan perkebunan kakao yang pernah menjadi salah satu penggerak ekonomi utama masyarakat setempat. Namun operasional perusahaan tersebut terhenti sekitar 2006 akibat persoalan finansial, yang kemudian berdampak pada menurunnya produktivitas perkebunan kakao di wilayah itu.
“Setelah perusahaan berhenti beroperasi, masyarakat berupaya mengelola kebun secara mandiri dengan segala keterbatasan. Persoalan utama yang dihadapi hingga kini adalah pemasaran yang belum stabil dan belum memiliki kepastian, sehingga petani belum memperoleh hasil maksimal,” ujar Viktor.
Ia menuturkan, semangat kebangkitan kembali kakao Ransiki mulai terlihat sejak berdirinya Koperasi Ebier Suth Cokran pada 2017, yang dibentuk untuk menghidupkan kembali kejayaan kakao Manokwari Selatan.
Melalui koperasi tersebut, produksi kakao lokal kembali berjalan, bahkan produk Cokelat Ransiki (Cokran)berhasil menembus pasar nasional dan internasional. Kakao Ransiki dikenal memiliki cita rasa khas yang berbeda dibanding daerah lain di Indonesia, sehingga diminati produsen cokelat premium dan sempat dipasarkan hingga ke Swiss dan Prancis.
Meski demikian, Viktor menilai potensi besar tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk mendongkrak perekonomian daerah.
Menurutnya, produksi kakao saat ini masih jauh dari kapasitas ideal jika dibandingkan dengan potensi lahan yang tersedia.
Potensi kakao tersebar di sejumlah distrik seperti Ransiki, Momi Waren, Isim, Tahota, dan Neney, yang bahkan telah masuk dalam dokumen perencanaan percepatan pembangunan Papua sebagai sektor unggulan yang perlu terus dikembangkan.
Namun keterbatasan akses pasar, minimnya dukungan pengolahan pascapanen, serta belum optimalnya hilirisasi industri kakao masih menjadi tantangan utama.
Karena itu, Viktor mendorong pemerintah daerah bersama koperasi untuk mengambil langkah konkret dalam membantu petani membuka akses pasar yang lebih pasti dan menguntungkan.
“Petani sudah bekerja keras. Pemerintah dan koperasi perlu hadir membuka jalur pemasaran yang lebih jelas agar hasil kerja masyarakat dapat dikelola dengan baik dan memberi keuntungan yang layak,” katanya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa Pemerintah Kabupaten Manokwari Selatan tidak boleh terus bergantung pada transfer dana dari pusat, melainkan harus mulai serius membangun sektor pengolahan kakao di daerah.
Menurutnya, keberadaan industri pengolahan lokal akan memberikan nilai tambah yang signifikan, sekaligus membuka peluang peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Jangan daerah terus menunggu transfer dana. Potensi kakao kita luar biasa. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian pemerintah daerah mendorong hilirisasi di daerah, sehingga manfaat ekonominya bisa langsung dirasakan masyarakat dan berdampak pada peningkatan PAD,” tegasnya.
Viktor menilai penguatan industri pengolahan lokal juga akan memperluas lapangan kerja bagi masyarakat, terutama generasi muda Orang Asli Papua, sekaligus menjaga keberlanjutan komoditas kakao sebagai warisan ekonomi khas Manokwari Selatan.
Ia berharap pemerintah daerah dapat menjadikan kakao sebagai salah satu prioritas pembangunan ekonomi dalam perencanaan daerah ke depan.
“Kalau dikelola serius, kakao bukan hanya menjadi kebanggaan Manokwari Selatan, tetapi juga bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang menopang kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” pungkasnya. (ALW/ON).




