BerandaKesehatanReagen EID Diproses Kemenkes ke Jayapura, Dinkes Pastikan Pemeriksaan HIV Bayi...

Reagen EID Diproses Kemenkes ke Jayapura, Dinkes Pastikan Pemeriksaan HIV Bayi di Papua Barat Segera Dilanjutkan

- Advertisement -spot_img

Orideknews.com, MANOKWARI Pemeriksaan HIV menggunakan metode Early Infant Diagnosis (EID) bagi bayi yang lahir dari ibu dengan HIV di Papua Barat segera kembali berjalan. Kementerian Kesehatan telah menginformasikan bahwa reagen EID telah tersedia dan saat ini sedang dalam proses pengiriman ke laboratorium rujukan di Rumah Sakit Dian Harapan, Jayapura.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, dr. Alwan Rimosan, mengatakan keterlambatan distribusi reagen sebelumnya menyebabkan layanan pemeriksaan HIV pada bayi di Papua Barat tertunda selama beberapa bulan.

Menurut Alwan, Early Infant Diagnosis (EID) merupakan metode pemeriksaan khusus untuk mendiagnosis HIV pada bayi yang lahir dari ibu dengan HIV positif. Pemeriksaan ini memungkinkan status HIV bayi diketahui lebih cepat, karena sampel darah sudah dapat diambil sejak bayi berusia enam minggu.

“Pemeriksaan EID dilakukan untuk memastikan status HIV pada bayi yang lahir dari ibu dengan HIV positif. Bayi sudah bisa diambil sampel darahnya sejak usia enam minggu. Jika menggunakan rapid test biasa, bayi harus menunggu hingga berusia lebih dari satu tahun karena masih dipengaruhi antibodi dari ibunya,” jelas Alwan.

Ia menegaskan, setiap ibu hamil yang terdiagnosis HIV positif dan kemudian melahirkan wajib diikuti dengan pemeriksaan EID terhadap bayinya. Langkah tersebut penting agar bayi yang terinfeksi HIV dapat segera memperoleh terapi antiretroviral sedini mungkin sehingga peluang hidup sehat dan tumbuh optimal menjadi lebih besar.

Secara nasional, layanan pemeriksaan EID dibagi ke dalam empat regional laboratorium. Untuk wilayah Indonesia Timur, laboratorium rujukannya berada di Rumah Sakit Dian Harapan, Jayapura. Seluruh kebutuhan reagen disediakan oleh Kementerian Kesehatan, sedangkan biaya operasional pemeriksaan didukung melalui The Global Fund.

Namun, proses pemeriksaan sempat terhambat akibat keterlambatan pengadaan reagen di tingkat pusat.

“Informasi yang kami terima, terjadi keterlambatan pengadaan di kementerian karena adanya perubahan mekanisme pengadaan barang. Akibatnya, reagen di laboratorium rujukan belum tersedia sehingga sampel dari Papua Barat belum bisa dikirim untuk diperiksa,” ujarnya.

Berdasarkan pendataan Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, bayi yang belum diambil sampel EID tersebar di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan, yakni RSUD Fakfak sebanyak lima bayi, RSUD Teluk Bintuni 10 bayi, Puskesmas Ransiki enam bayi, Puskesmas Macuan satu bayi, Puskesmas SP IV empat bayi, Puskesmas Masni dua bayi, Puskesmas Maripi tujuh bayi, Puskesmas Sanggeng tujuh bayi, Puskesmas Wosi lima bayi, Puskesmas Amban tiga bayi, Puskesmas Pasir Putih lima bayi, RSUD Manokwari lima bayi, RSUP Papua Barat dua bayi, serta RSUD Teluk Wondama dua bayi.

Sementara itu, sampel yang telah diambil dan siap dikirim untuk diperiksa di laboratorium rujukan Rumah Sakit Dian Harapan Jayapura berasal dari RSUD Teluk Wondama sebanyak enam sampel, RSUD Kaimana lima sampel, dan RS Bhayangkara dua sampel.

“Semua sampel yang sudah diambil sementara masih disimpan di masing-masing fasilitas pelayanan kesehatan karena laboratorium rujukan di Rumah Sakit Dian Harapan belum memiliki reagen untuk melakukan pemeriksaan,” kata Alwan.

Ia menyampaikan perkembangan terbaru bahwa Kementerian Kesehatan telah menginformasikan reagen EID saat ini sudah tersedia dan sedang dalam proses pengiriman ke Rumah Sakit Dian Harapan Jayapura.

“Kami berharap dalam minggu ini atau paling lambat minggu depan reagen sudah tiba di laboratorium rujukan. Jika sudah tersedia, maka seluruh sampel yang telah diambil akan segera dikirim untuk diperiksa. Selanjutnya, fasilitas kesehatan juga akan segera mengambil sampel dari bayi-bayi yang selama ini masih menunggu agar dapat langsung dikirim ke Jayapura,” ujarnya.

Alwan memastikan Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan, laboratorium rujukan, serta seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di kabupaten dan kota agar layanan pemeriksaan EID dapat kembali berjalan normal.

“Kami ingin memastikan seluruh bayi yang lahir dari ibu dengan HIV positif mendapatkan pemeriksaan sedini mungkin. Dengan diagnosis yang cepat, penanganan juga bisa segera diberikan sehingga risiko kesakitan dan kematian akibat HIV pada bayi dapat ditekan,” katanya.

Ketua Komite III DPD RI, Dr. Filep Wamafma, S.H.,M.Hum

Sebelumnya, keterlambatan pengadaan reagen EID mendapat perhatian Ketua Komite III DPD RI, Dr. Filep Wamafma, S.H., M.H. Menurutnya, pemeriksaan HIV pada bayi merupakan layanan yang sangat penting karena menentukan kecepatan penanganan terhadap bayi yang terinfeksi.

“Tanpa pengobatan, bayi yang terinfeksi HIV berisiko berkembang menjadi AIDS dalam waktu singkat. Bahkan sekitar 50 persen bayi yang tidak mendapatkan terapi dapat meninggal sebelum mencapai usia dua tahun. Karena itu diagnosis dini dan pengobatan sedini mungkin sangat menentukan kualitas hidup dan harapan hidup anak,” ujar Filep.

Filep menjelaskan, pemeriksaan EID diperuntukkan bagi bayi berusia 1 hingga 18 bulan yang lahir dari ibu dengan HIV. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode Dried Blood Spot (DBS), yaitu darah diambil dari tumit bayi, kemudian diteteskan pada kertas khusus dan dikeringkan sebelum dikirim ke laboratorium pemeriksaan.

Menurutnya, secara teknis sampel DBS masih dapat disimpan hingga sekitar enam bulan apabila ditangani dengan baik. Namun, semakin lama pemeriksaan tertunda, semakin besar risiko kualitas sampel menurun sehingga dapat memengaruhi hasil pemeriksaan.

Ia juga menyebut keterlambatan tersebut terjadi akibat proses pengadaan reagen yang dilakukan secara terpusat oleh Kementerian Kesehatan, sehingga tidak hanya berdampak di Papua Barat, tetapi juga dialami berbagai daerah di Indonesia.

Menanggapi perhatian tersebut, Alwan menyampaikan apresiasi kepada Komite III DPD RI dan seluruh pihak yang telah memberikan perhatian terhadap keberlangsungan layanan deteksi dini HIV pada bayi. Ia berharap distribusi reagen ke Jayapura dapat segera rampung sehingga seluruh sampel yang tertunda dapat diperiksa dan pelayanan kembali berjalan normal. (ALW/ON).

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini