Orideknews.com, Teluk Wondama – Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, menargetkan pengembangan lahan cetak sawah rakyat (CSR) seluas 450 hektar sebagai bagian dari dukungan terhadap program swasembada pangan nasional. Lahan tersebut direncanakan tersebar di dua distrik, yakni Distrik Nikiwar dan Distrik Teluk Duari.
Program percepatan swasembada pangan ini dinilai membutuhkan perluasan areal tanam yang signifikan dan berkelanjutan, khususnya untuk komoditas utama seperti padi, jagung, dan pangan lainnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Teluk Wondama, Korneles Paduai, mengatakan bahwa target 450 hektar lahan CSR telah melalui tahapan survei awal. Bahkan, hasil sementara menunjukkan potensi lahan yang tersedia melebihi target.
“Target kami 450 hektar di Nikiwar dan Teluk Duari. Namun dari hasil survei sementara oleh tim SID Universitas Papua, terdapat potensi lahan lebih dari 500 hektar yang memenuhi syarat untuk diolah. Meski demikian, angka tersebut masih menunggu hasil pengolahan data akhir,” ujar Korneles saat ditemui di lokasi survei di Distrik Nikiwar, Sabtu, (25/4/26).
Ia menjelaskan, proses penentuan kelayakan lahan dilakukan melalui metode Survei Investigation and Design (SID) sesuai ketentuan Direktorat Jenderal Lahan, Irigasi, dan Perlindungan. Dalam hal ini, Universitas Papua (Unipa) Manokwari ditunjuk sebagai mitra pelaksana kajian teknis.
Dari sisi akademis, tim ahli menilai kondisi lahan di wilayah tersebut cukup layak untuk pengembangan sawah. Dosen Fakultas Pertanian Unipa, Amin Mbusango, mengungkapkan bahwa kualitas tanah di lokasi survei tergolong baik.
“Secara umum, tanah di lokasi ini masuk kategori S1 dan S2, dengan tingkat kesuburan, struktur, dan tekstur yang sangat baik. Kami juga tidak menemukan kandungan besi (Fe) yang dapat menjadi faktor pembatas hingga kedalaman 120 cm. Ini menunjukkan lahan sangat layak untuk dikembangkan,” jelasnya.
Meski demikian, ia menyebut bahwa perbaikan sistem drainase menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan lahan ke depan.

Sementara itu, dari aspek vegetasi, tim SID memastikan lahan yang direncanakan bukan merupakan kawasan hutan lindung, melainkan hutan rakyat yang dapat dimanfaatkan.
“Vegetasi di lokasi cukup bervariasi, mulai dari semak hingga pohon besar, namun masih dalam kategori hutan rakyat. Artinya, lahan ini layak dibuka untuk pengembangan CSR,” ujar akademisi bidang agronomi Unipa, Trisday Parari.
Dari sisi ketersediaan air, Ketua Tim SID Unipa, Arif Faisol, menyebut bahwa sumber air di kedua distrik sangat mencukupi untuk kebutuhan irigasi.
“Kebutuhan air untuk lahan berkisar antara 12,5 hingga 187,5 liter per detik, tergantung luasannya. Sementara debit sumber air yang tersedia mencapai lebih dari 1.000 liter per detik. Ini sangat mencukupi untuk mendukung sistem irigasi,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan oleh ahli pemetaan tim SID, Samsul Bachri, yang menilai bahwa kondisi topografi, sumber air, dan karakteristik tanah di wilayah tersebut mendukung pengembangan sawah.
“Berdasarkan hasil pemetaan awal di sejumlah kampung seperti Tamoge, Werianggi, Werabaur, dan Kurei, kawasan ini memiliki potensi yang baik untuk pengembangan pertanian sawah. Namun, hasil akhir tetap menunggu analisis dari seluruh bidang,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak selama proses survei, mulai dari pemerintah daerah, penyuluh pertanian, hingga masyarakat setempat.
Hingga kini, tim SID masih menyusun laporan lengkap hasil kajian sebagai dasar pengambilan keputusan lanjutan dalam pengembangan lahan CSR di Kabupaten Teluk Wondama. (SR/ON).



