Top 5 This Week

Related Posts

Dinkes Papua Barat Gencarkan Sweeping Door to Door di Fakfak, Kejar Target Imunisasi Campak 95 Persen

Orideknews.com, Fakfak — Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat bergerak cepat merespons Kejadian Luar Biasa (KLB) campak rubella yang terjadi di Kabupaten Teluk Wondama dan Kabupaten Fakfak. Penetapan KLB oleh kepala dinas kesehatan setempat menjadi dasar pelaksanaan respon imunisasi massal bagi anak-anak di wilayah terdampak.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, dr. Alwan Rimosan melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Papua Barat, Frans Abidondifu, S.KM., M.Epid mengatakan tim provinsi bersama tim kabupaten, puskesmas, serta kader kesehatan telah melakukan langkah terpadu melalui Outbreak Response Immunization (ORI).

“Pelaksanaan sudah dimulai sejak hari Senin dengan diawali rapat koordinasi bersama dinas kabupaten, puskesmas, dan kader di wilayah kasus,” ujarnya melalui sambungan telepon, Kamis (23/4/26).

Di Teluk Wondama, target imunisasi mencapai 1.703 anak, sementara di Fakfak sebanyak 1.412 anak, khususnya di wilayah kerja Puskesmas Sekban sebagai lokasi kasus.

Pelaksanaan imunisasi ditargetkan berlangsung selama delapan hari untuk mencapai seluruh sasaran. Tim di lapangan melibatkan tenaga promosi kesehatan, bidan, perawat, serta kader posyandu.

Frans mengakui masih ada sebagian masyarakat yang belum bersedia anaknya diimunisasi. Namun setelah diberikan edukasi, sebagian besar akhirnya menerima.

Ia mengingatkan pentingnya cakupan imunisasi minimal 95 persen untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity). Jika tidak tercapai, risiko penularan campak rubella akan tetap tinggi.

“Campak rubella bisa menimbulkan komplikasi berat seperti pneumonia, diare, bahkan kematian pada anak. Sementara pada ibu hamil dapat menyebabkan keguguran atau bayi lahir dengan cacat bawaan (Congenital Rubella Syndrome/CRS),” ungkapnya.

Pihaknya mengimbau masyarakat, khususnya orang tua yang memiliki anak usia 9–59 bulan, agar segera membawa anaknya ke posyandu, puskesmas, atau lokasi layanan yang telah dijadwalkan.

“Imunisasi ini gratis dan menjadi hak setiap anak. Dalam kondisi KLB, pelaksanaannya dipercepat dan diberikan tanpa melihat status imunisasi sebelumnya,” tutur Frans.

Ia berharap dengan kerja sama semua pihak, cakupan imunisasi dapat segera mencapai target sehingga penyebaran campak rubella di Papua Barat dapat dikendalikan.

Sebagai tindak lanjut, Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat juga memperkuat kewaspadaan melalui kebijakan resmi yang merujuk pada Surat Edaran Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/C/1077/2026 tentang kewaspadaan dini terhadap peningkatan kasus dan KLB campak, serta surat Dinkes Papua Barat Nomor 400.7.7.1/0400/DK-PB/IV/2026 tertanggal 8 April 2026.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, Billy Makamur, mengatakan pihaknya terus menggencarkan pelaksanaan imunisasi campak melalui Outbreak Response Immunization (ORI) di Kabupaten Fakfak. Upaya ini dilakukan dengan menyasar berbagai lokus secara intensif guna mengejar target cakupan imunisasi sebesar 95 persen.

Billy mengaku, tim vaksinasi saat ini bergerak aktif di sejumlah wilayah, seperti Wagom, Wagom Utara, Posyandu Eklesia, serta Tanama di Posyandu Tanama.

“Tim vaksinasi berjalan di tiap-tiap lokus. Selain itu, ada juga tim lain yang melakukan sweeping untuk mengejar target hingga 95 persen,” ujarnya.

Ia menjelaskan, capaian imunisasi di wilayah Wagom saat ini telah mencapai sekitar 70 persen. Meski demikian, masih terdapat beberapa lokus dengan capaian rendah yang menjadi fokus percepatan.

Untuk itu, pihaknya mendorong tim di lapangan melakukan sweeping dari rumah ke rumah guna menjangkau anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi.

“Kami juga melibatkan kepala kampung, RT, serta kader untuk mengawal pelaksanaan sweeping door to door agar lebih efektif,” jelasnya.

Billy menjelaskan, terdapat tiga wilayah yang saat ini menjadi prioritas peningkatan cakupan, yakni Wagom Utara, Tanama, dan Dulanpokpok. Ketiga wilayah tersebut ditargetkan dapat segera mendekati angka 95 persen.

“Fokus kami saat ini menaikkan capaian di tiga lokus tersebut agar bisa mendekati target,” katanya.

Berdasarkan data cakupan ORI campak dan rubella periode 21–24 April 2026, capaian di Kabupaten Fakfak secara umum masih berada di angka 49 persen, dengan total 696 anak telah diimunisasi dari target 1.412 sasaran usia 9–59 bulan.

Secara rinci, beberapa wilayah menunjukkan capaian yang masih rendah, seperti Dulampokpok sebesar 18 persen, Tanama 14 persen, dan Wagom Utara 55 persen. Sementara Wagom menjadi salah satu wilayah dengan capaian lebih tinggi yakni 70 persen, namun masih perlu ditingkatkan untuk mencapai target.

Data tersebut memperkuat fokus intervensi tim di lapangan, khususnya di lokus dengan cakupan rendah agar segera dikejar melalui strategi sweeping intensif.

Dalam pelaksanaannya, Dinas Kesehatan turut melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pemerintah kelurahan dan distrik, kepala kampung, RT/RW, hingga tokoh agama.

Selain itu, tenaga pendidik di tingkat TK dan PAUD juga dilibatkan untuk membantu memberikan edukasi kepada orang tua terkait pentingnya imunisasi.

“Guru-guru membantu menyampaikan informasi kepada orang tua, sehingga mereka memahami pentingnya membawa anak untuk imunisasi campak ORI,” ujarnya.

Ia menegaskan, keberhasilan program imunisasi sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat, terutama orang tua dalam memastikan anak-anak mendapatkan vaksinasi lengkap.

“Kami terus mengintensifkan promosi kesehatan di kampung-kampung guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya imunisasi sebagai langkah pencegahan penyebaran penyakit campak,” tambah Billy. (ALW/ON).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles