Orideknews.com, MANOKWARI, — Cakupan imunisasi campak-rubela (Measles-Rubella/MR) dalam upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB) campak di Kabupaten Manokwari, Papua Barat, mencapai 98,6 persen hingga Selasa, 13 Oktober 2026. Capaian tersebut telah melampaui target minimal 95 persen, meski pemerataan imunisasi di seluruh wilayah masih menjadi pekerjaan rumah bagi petugas kesehatan.
Berdasarkan dashboard cakupan imunisasi MR penanggulangan KLB campak-rubela Kabupaten Manokwari, dari total sasaran 7.667 anak, sebanyak 7.556 anak tercatat telah mendapatkan imunisasi hingga hari kedelapan dari 12 hari pelaksanaan.
Sementara itu, dashboard yang sama mencatat 1.284 anak belum diimunisasi. Angka ini perlu diklarifikasi lebih lanjut karena tidak konsisten dengan selisih antara total sasaran dan jumlah anak yang telah diimunisasi, yakni 111 anak.
Perbedaan tersebut menjadi catatan penting dalam evaluasi dan pemutakhiran data imunisasi agar pelacakan anak yang belum mendapatkan vaksin dapat dilakukan secara akurat.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, dr. Alwan Rimosan, berharap percepatan imunisasi dan penguatan koordinasi lintas wilayah didorong guna memastikan seluruh anak sasaran mendapatkan perlindungan dari campak.
Dalam pelaksanaan penanggulangan KLB ini, Dinas Kesehatan Provinsi bersama Kabupaten dan puskesmas perlu memastikan pendataan, penjangkauan sasaran, serta pelaporan berjalan seiring sehingga tingginya angka cakupan kabupaten benar-benar mencerminkan kondisi di lapangan.
Dari 16 puskesmas yang melaksanakan imunisasi, sembilan di antaranya telah mencapai cakupan minimal 95 persen. Puskesmas tersebut adalah Masni, Sowi IV, Warmare, Mokwam, Pasir Putih, Nuni, Wosi, Macuan, dan SP IV Prafi.
Sejumlah puskesmas mencatat cakupan di atas 100 persen. Puskesmas Masni mencapai 166,9 persen, Pasir Putih 156,3 persen, Mokwam 135,2 persen, Warmare 133,6 persen, SP IV Prafi 118,7 persen, Wosi 107,6 persen, Nuni 105,3 persen, Macuan 104,4 persen, dan Sowi IV 142 persen.
Capaian di atas 100 persen dapat terjadi akibat perbedaan antara sasaran awal dan jumlah anak yang berhasil dijangkau. Namun, data sasaran dan dosis yang diberikan tetap perlu diverifikasi untuk memastikan ketepatan pelaporan.
Di sisi lain, sejumlah wilayah masih membutuhkan percepatan. Puskesmas Sidey mencatat cakupan terendah, yakni 33,9 persen, disusul Amban 58,3 persen, Sanggeng 61,9 persen, dan Pulau Mansinam 60,4 persen.
Puskesmas Sidey baru mengimunisasi 94 anak dari sasaran 277 anak, sedangkan Amban mencatat 304 anak telah diimunisasi dari sasaran 521 anak. Di wilayah kerja Puskesmas Sanggeng, dashboard mencatat 1.238 dosis dari sasaran 2.000 anak, sementara Pulau Mansinam mencatat 32 anak telah diimunisasi dari sasaran 53 anak.
Data tersebut menunjukkan bahwa capaian agregat kabupaten belum sepenuhnya menggambarkan pemerataan pelayanan. Wilayah dengan cakupan rendah membutuhkan penelusuran sasaran yang belum terjangkau, penguatan koordinasi dengan pemerintah kampung dan kelurahan, serta pelayanan imunisasi yang lebih aktif.
Selain capaian berdasarkan puskesmas, dashboard menunjukkan sebanyak 106 dari 186 kampung dan kelurahan telah mencapai cakupan imunisasi minimal 95 persen.
Artinya, masih terdapat 80 kampung dan kelurahan yang belum mencapai ambang tersebut. Pemerataan menjadi perhatian penting karena keberhasilan penanggulangan KLB tidak hanya diukur dari angka kabupaten, tetapi juga dari kemampuan menjangkau anak-anak di setiap wilayah.
Pelaksanaan imunisasi MR dalam penanggulangan KLB campak di Manokwari dijadwalkan berlangsung selama 12 hari kerja, mulai 5 hingga 17 Oktober 2026, dengan sasaran anak usia sembilan bulan hingga di bawah lima tahun.
“Dengan tersisa empat hari pelaksanaan setelah laporan 13 Oktober, kami harap petugas kesehatan memaksimalkan penjangkauan sasaran, terutama di wilayah dengan cakupan rendah, sekaligus melakukan rekonsiliasi data dosis dan sasaran,” kata Alwan.
Capaian 98,6 persen menjadi perkembangan positif dalam upaya pengendalian KLB campak di Manokwari. Namun, tambah Alwan, keberhasilan akhir tetap bergantung pada ketepatan data dan pemerataan imunisasi, sehingga tidak ada anak sasaran yang tertinggal dari upaya perlindungan kesehatan. (ALW/ON).




