Orideknews.com, MANOKWARI, – Puskesmas Amban bersama dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari dan Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat menargetkan cakupan Outbreak Response Immunization (ORI) Campak mencapai 95 persen dengan sasaran sekitar 500 anak. Upaya tersebut menjadi bagian dari penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Kabupaten Manokwari.
Kepala Puskesmas Amban, dr. Ida Dwiyantaty mengatakan, pencapaian target imunisasi membutuhkan dukungan lintas sektor. Tidak hanya tenaga kesehatan, tetapi juga pihak sekolah, orang tua murid, kader kesehatan hingga masyarakat.
Menurut Ida, keterlibatan berbagai pihak diperlukan terutama untuk membantu menyampaikan informasi mengenai pentingnya imunisasi kepada masyarakat.
“Kami membutuhkan komunikasi dan kerja sama lintas sektor, baik dari kami, pihak sekolah maupun ibu-ibu kader untuk saling bahu-membahu menyukseskan rencana ORI Campak kepada masyarakat,” kata Ida.
Ia menilai sekolah dan kader kesehatan memiliki peran strategis sebagai penyambung informasi kepada masyarakat, termasuk murid dan orang tua. Sebab, petugas kesehatan masih menghadapi tantangan berupa penolakan terhadap imunisasi.
“Kalau hanya dari kami, kadang-kadang masyarakat tidak terlalu menerima. Jadi kita butuh komunikasi dan kerja sama. Kadang masyarakat masih menolak, ‘Ah, buat apa?’,” ujarnya.
Ida mengatakan, penolakan terhadap imunisasi juga pernah dihadapi tenaga kesehatan ketika terjadi peningkatan kasus campak pada 2023.
“Pengalaman kami tahun 2023 juga sempat seperti ini, ada wabah campak dan bahkan ada beberapa yang menolak. Jadi kami berusaha dengan adanya pertemuan ini, kami berharap capaian seperti yang tadi kita bilang bisa mencapai 95 persen,” jelasnya.
Dengan sasaran sekitar 500 anak, Ida berharap dukungan seluruh pihak mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam ORI Campak.
“Sasaran kami sekitar 500, sangat tinggi. Mudah-mudahan dapat tercapai dan campak memang bisa diselesaikan dalam waktu satu bulan sesuai dengan instruksi Bupati,” katanya.
Ida juga mengklarifikasi jumlah kasus campak yang tercatat di wilayah kerja Puskesmas Amban. Menurutnya, terdapat empat kasus suspek yang telah ditindaklanjuti melalui penyelidikan epidemiologi (PE).
“Puskesmas Amban sendiri ada empat kasus dan empat kasus ini sudah kami lakukan PE. Itu masih suspek,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, informasi mengenai 17 kasus yang sebelumnya disebut berada di wilayah Puskesmas Amban perlu dilihat berdasarkan pembagian wilayah kerja fasilitas kesehatan.
Menurut Ida, kasus yang berada di kawasan Susweni masuk dalam wilayah kerja Puskesmas Pasir Putih, bukan Puskesmas Amban.
“Yang kemarin saya dengar dari berita, ternyata 17 kasus di Puskesmas Amban. Setelah dilihat, ternyata berada di wilayah Susweni. Susweni bukan wilayah kerja kami, tetapi wilayah kerja Puskesmas Pasir Putih,” jelasnya.
Ia mengatakan, wilayah kerja Puskesmas Amban hanya sampai kawasan Cabang Dua dan Anggori. Sementara kawasan setelah Hutan Lindung menuju Susweni merupakan wilayah pelayanan Puskesmas Pasir Putih.
Ida memastikan setiap laporan kasus yang masuk di wilayah kerjanya langsung ditindaklanjuti oleh petugas surveilans.
“Ketika mendapat laporan, petugas surveilans kami langsung mendatangi dan melakukan pemeriksaan terhadap pasien-pasien tersebut,” ujarnya.
Di tengah upaya meningkatkan cakupan ORI tersebut, Dokter Spesialis Anak, dr. Clara, Sp.A, mengimbau masyarakat, khususnya para orang tua di Kabupaten Manokwari, agar tidak menolak pemberian imunisasi campak kepada anak.
Imbauan itu disampaikan menyusul ditemukannya puluhan kasus campak di Kabupaten Manokwari dan langkah pemerintah melakukan penanggulangan melalui imunisasi tambahan.
dr. Clara menyebut terdapat sekitar 70 anak yang tercatat sebagai kasus campak, sementara tiga kasus telah dinyatakan positif berdasarkan pemeriksaan.
“Sekitar 70 anak dengan tiga kasus yang positif. Jadi diharapkan teman-teman, terutama untuk imunisasi, jangan menolak untuk diimunisasi,” ujar dr. Clara.
Ia meminta orang tua segera melengkapi status imunisasi anak. Menurutnya, imunisasi merupakan langkah penting untuk memberikan perlindungan sekaligus mengurangi risiko anak mengalami penyakit dengan kondisi yang lebih berat.
“Imunisasi segera, lengkapi imunisasi. Walaupun misalnya sudah diimunisasi sebelumnya, satu bulan kemudian ada imunisasi yang dilakukan oleh pemerintah, ayo bergabung semuanya,” ajaknya.
Ajakan tersebut juga ditujukan kepada orang tua yang anaknya sebelumnya telah mendapatkan imunisasi campak. Mereka tetap diharapkan mengikuti program imunisasi tambahan yang dilaksanakan pemerintah sebagai respons terhadap KLB campak.
dr. Clara juga mengingatkan masyarakat agar memahami manfaat imunisasi secara tepat. Menurutnya, pemberian imunisasi bukan berarti seseorang sama sekali tidak dapat terinfeksi, tetapi dapat membantu mengurangi risiko penyakit berkembang menjadi lebih berat.
“Ingat, imunisasi bukan berarti tidak terkena sakit, tapi mengurangi angka kejadian sakit yang menjadi lebih berat,” tegasnya.
Karena itu, ia berharap orang tua mendukung program imunisasi dengan membawa anak-anak ke fasilitas maupun lokasi pelayanan yang telah ditentukan.
Pemerintah Kabupaten Manokwari bersama jajaran kesehatan menjadwalkan pelaksanaan ORI Campak pada 5–17 Oktober 2026. Program tersebut menjadi salah satu langkah untuk mempercepat penanggulangan KLB dan memutus rantai penularan campak.
Target cakupan imunisasi sebesar 95 persen membutuhkan partisipasi masyarakat serta dukungan lintas sektor, mulai dari pemerintah distrik, sekolah, kader kesehatan, tokoh masyarakat hingga orang tua.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menjawab salah satu tantangan di lapangan, yakni masih adanya penolakan terhadap imunisasi.

