Orideknews.com, MANOKWARI – Dokter Spesialis Anak, dr. Maria CH Warwe, Sp.A, mengingatkan masyarakat untuk mengenali sejak dini gejala campak dan rubella, menyusul terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Kabupaten Manokwari.
Dalam penyampaian materi di Puskesmas Wosi, Manokwari, dr. Maria menjelaskan campak umumnya diawali dengan demam yang dapat disertai batuk, pilek, serta mata merah dan berair. Setelah itu, muncul bintik atau ruam kemerahan pada kulit.
“Gejala campak itu ada demam, batuk, pilek, mata berair, kemudian dilanjutkan dengan bintik-bintik merah,” jelasnya, Selasa, (28/9/26)
Menurut Maria, ruam campak memiliki pola khas. Kemerahan biasanya mulai muncul dari sekitar batas rambut dan area wajah atau belakang telinga, kemudian menyebar secara bertahap dari bagian atas tubuh hingga mencapai tangan dan kaki.
Pola penyebaran dari kepala ke bagian bawah tubuh tersebut dikenal sebagai cephalocaudal. Ketika ruam telah menyebar hingga ekstremitas, demam biasanya mulai menurun dan penderita memasuki tahapan pemulihan atau konvalesen.
Pada fase penyembuhan, bekas ruam dapat meninggalkan perubahan warna atau hiperpigmentasi pada kulit.
Maria mengatakan gejala campak dapat terlihat lebih nyata pada anak yang belum memperoleh imunisasi lengkap. Kondisi kekebalan tubuh menjadi salah satu faktor penting yang menentukan apakah seseorang yang terpapar virus kemudian mengalami infeksi dan jatuh sakit.
Sementara itu, rubella memiliki karakteristik yang berbeda. Menurutnya, demam akibat rubella umumnya lebih ringan dan ruam merah yang muncul tidak sebanyak pada campak. Kendati demikian, campak dan rubella sama-sama dapat menimbulkan ruam atau eksantema sehingga perlu pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
Maria juga menjelaskan bahwa terjadinya penyakit dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain kondisi individu atau host, lingkungan, serta mikroorganisme penyebab penyakit.
Kondisi lingkungan yang tidak sehat dapat mendukung penyebaran penyakit. Di sisi lain, daya tahan tubuh yang kurang baik membuat seseorang lebih rentan mengalami infeksi setelah terpapar.
Karena itu, imunisasi menjadi salah satu langkah penting dalam membentuk kekebalan tubuh terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Maria mengingatkan campak memiliki tingkat penularan tinggi. Seseorang yang terinfeksi bahkan sudah dapat menularkan virus sebelum ruam merah terlihat jelas.
“Bisa menularkan empat hari sebelum dan empat hari sesudah erupsi,” ujarnya.
Artinya, ketika seseorang mengalami demam disertai batuk, pilek serta mata merah dan berair, potensi penularan sudah perlu diwaspadai meskipun ruam belum muncul.
Hal tersebut menjadi penting dalam penanganan KLB karena penderita pada fase awal dapat berinteraksi dengan orang lain tanpa menyadari bahwa dirinya sudah berada dalam periode menular.
Maria menegaskan campak bukan penyakit yang dapat dianggap ringan. Pada kondisi tertentu, campak dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama pada anak dengan kondisi kesehatan atau status gizi yang kurang baik.
Salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai adalah pneumonia. Apabila infeksi pada paru berkembang berat dan tidak mendapatkan penanganan yang memadai, penderita dapat mengalami gangguan pernapasan yang mengancam jiwa.
Komplikasi lainnya antara lain diare berat yang berisiko menyebabkan dehidrasi serta gangguan pada sistem saraf seperti radang otak yang dapat ditandai, antara lain, dengan kejang.
Gangguan pada mata juga menjadi perhatian dalam penanganan penderita campak. Karena itu, pemberian vitamin A menjadi salah satu bagian penting dalam tata laksana anak dengan campak sesuai indikasi tenaga kesehatan.
Risiko komplikasi, lanjut Maria, semakin besar pada anak yang mengalami kekurangan gizi. Kondisi gizi yang buruk dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga anak lebih mudah mengalami infeksi. Sebaliknya, infeksi berulang juga dapat memperburuk kondisi gizinya.
Selain campak, Maria turut mengingatkan bahaya rubella, khususnya apabila infeksi terjadi pada ibu hamil, terutama pada awal kehamilan.
Infeksi rubella pada kehamilan dapat meningkatkan risiko keguguran maupun kelainan bawaan pada janin yang dikenal sebagai sindrom rubella kongenital.
Kelainan tersebut dapat berdampak pada sejumlah organ, termasuk gangguan pendengaran, mata, maupun kelainan jantung bawaan. Karena itu, peningkatan kekebalan masyarakat melalui imunisasi menjadi bagian penting dalam memutus rantai penularan campak dan rubella. (ALW/ON)
