Orideknews.com, MANOKWARI, — Kepala Distrik Manokwari Barat, Isack E. Waramori, mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap campak dengan mengutamakan pencegahan, salah satunya melalui imunisasi.
Hal tersebut disampaikan Isack saat membuka sosialisasi imunisasi campak di Puskesmas Wosi, Senin, (28/9/26) sebagai bagian dari upaya penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Kabupaten Manokwari.
“Lebih baik kita mencegah sebelum kita mengobati. Kita selalu bilang obat mahal. Jadi sebelum kita mengobati yang lebih parah, lebih baik kita mencegah,” ujar Isack.
Ia meminta masyarakat, kader posyandu serta peserta yang hadir mengikuti sosialisasi dengan baik dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertanya sehingga mendapatkan pemahaman yang benar mengenai campak dan langkah pencegahannya.
Menurut Isack, Pemerintah Kabupaten Manokwari memberikan perhatian serius terhadap persoalan kesehatan, terutama di Distrik Manokwari Barat yang memiliki jumlah penduduk cukup besar.
Distrik Manokwari Barat terdiri dari enam kelurahan dan empat kampung. Kelurahan Wosi, kata Isack, menjadi salah satu wilayah dengan jumlah penduduk tinggi sehingga pelayanan kesehatan dan upaya pencegahan penyakit perlu mendapat perhatian.
Ia juga mengapresiasi kader-kader posyandu yang selama ini membantu pelayanan kesehatan masyarakat. Menurutnya, terdapat sekitar 15 posyandu di Kelurahan Wosi.
Terkait kasus campak, Isack mengatakan sebelumnya telah ditemukan kasus di Kelurahan Wosi yang langsung ditindaklanjuti Puskesmas Wosi bersama pemerintah distrik.
“Puskesmas Wosi dan kami dari distrik juga turun, kita lihat dan bisa ditanggulangi atau ditindaklanjuti secara cepat. Pemeriksaan sampai sampelnya dikirim ke pusat,” katanya.
Lanjutnya, sosialisasi tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi sarana edukasi agar masyarakat memahami bahaya campak sekaligus pentingnya imunisasi.
Isack berharap masyarakat di Distrik Manokwari Barat, khususnya Kelurahan Wosi, mendukung upaya tersebut dan tidak ragu membawa anak mengikuti imunisasi.
Ia menilai keterlibatan kader, pemerintah kampung dan kelurahan hingga masyarakat menjadi bagian penting dalam membantu pemerintah memutus penularan campak.
“Dengan sosialisasi itu kita mengedukasi masyarakat. Kalau kita sudah edukasi, kemudian kalau kita bisa fasilitasi, kita fasilitasi. Nanti selesai baru kita evaluasi, ini berjalan dengan baik atau tidak,” ujarnya.
Isack kemudian membuka secara resmi sosialisasi imunisasi campak dalam rangka penanggulangan KLB di Kelurahan Wosi, Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari.
Sebelumnya, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari, Alexander Takdare, mengungkapkan hingga minggu ke-36 tahun 2026 tercatat 70 suspek campak yang tersebar di delapan wilayah kerja puskesmas di Kabupaten Manokwari.
Dari jumlah tersebut, tiga kasus telah terkonfirmasi positif berdasarkan pemeriksaan laboratorium, masing-masing berasal dari wilayah Wosi, Sanggeng dan Pasir Putih.
Sebanyak 47 kasus atau 67 persen terjadi pada balita, sementara 49 kasus atau 70 persen tidak memiliki bukti riwayat imunisasi. Selain itu, sebanyak 34 penderita atau 49 persen sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Hingga data tersebut disampaikan, tidak terdapat laporan kematian.
“Kasus campak ini dari minggu pertama sampai minggu ke-36 memang terjadi peningkatan. Sampai minggu ke-36 ini ada 70 kasus yang tersebar di delapan puskesmas. Untuk itu kita perlu segera menanggapi kasus yang sementara terjadi pada saat ini,” ujar Alexander, Kamis (25/9/2026).
Alexander menjelaskan, berdasarkan kriteria epidemiologi, kondisi tersebut telah memenuhi kategori KLB. Salah satu indikatornya adalah ditemukan sedikitnya lima kasus selama empat minggu berturut-turut.
Dari minggu ke-31 hingga minggu ke-36 saja, tercatat sebanyak 28 kasus campak.
“Kalau secara kriteria, kasus ini sudah masuk dalam KLB. Dari minggu ke-31 sampai 36 ada 28 kasus,” jelasnya.
Salah satu klaster yang menjadi perhatian ditemukan di Susweni, wilayah kerja Puskesmas Amban, dengan 13 penderita dalam kurun waktu sekitar 20 hari.
Meski demikian, Alexander menegaskan penetapan KLB tidak dimaksudkan untuk membuat masyarakat panik, melainkan menjadi dasar agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat, terkoordinasi dan menyeluruh.
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari juga menunjukkan cakupan imunisasi Measles-Rubella (MR) dosis pertama masih berada di kisaran 46,1 persen. Diperkirakan sekitar 2.059 anak belum memperoleh perlindungan imunisasi secara optimal.
Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian pemerintah dalam mempercepat penanggulangan KLB campak.
Alexander mengatakan Dinas Kesehatan telah melakukan sejumlah langkah, mulai dari rapat koordinasi pada 18 September 2026, melaporkan perkembangan kasus kepada Bupati Manokwari pada 22 September, hingga penyusunan micro planning bersama seluruh puskesmas.
Sebanyak 11 puskesmas di Kabupaten Manokwari dilibatkan dalam koordinasi percepatan penanggulangan KLB.
“Menindaklanjuti arahan Bapak Bupati, prioritas kami saat ini adalah segera melakukan komunikasi dan koordinasi dengan seluruh puskesmas. Kami juga sedang menyusun micro planning sebagai dasar pelaksanaan percepatan penanggulangan KLB di Kabupaten Manokwari,” kata Alexander.
Sebagai langkah respons, Pemerintah Kabupaten Manokwari melalui Dinas Kesehatan menjadwalkan pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) Campak-Rubela pada 5–17 Oktober 2026.
Imunisasi tambahan tersebut menyasar anak usia 9 bulan hingga kurang dari 5 tahun, dengan target cakupan minimal 95 persen. Imunisasi diberikan tanpa memandang status imunisasi sebelumnya sebagai langkah cepat memutus rantai penularan di tengah KLB.
Apabila cakupan belum mencapai target, petugas kesehatan akan melakukan sweeping untuk menjangkau anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi.
Pelaksanaan ORI akan melibatkan puskesmas, sekolah, pemerintah distrik dan kelurahan, RT/RW, TNI-Polri, serta tokoh masyarakat dan tokoh agama. (ALW/ON).



