Orideknews.com, MANOKWARI, – Kepala Puskesmas Wosi, Selviana Safkaur, S.Tr.Keb., mengungkapkan cakupan imunisasi campak di Kelurahan Wosi, Distrik Manokwari Barat, masih tergolong rendah. Salah satu kendala yang dihadapi petugas kesehatan adalah masih adanya penolakan dari orang tua terhadap pemberian imunisasi kepada anak.
Selviana mengatakan, pihaknya berharap cakupan imunisasi campak di wilayah tersebut dapat terus ditingkatkan, terlebih di tengah penanganan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak yang terjadi di Kabupaten Manokwari.
“Kalau bisa 50 persen untuk campak dapat tercapai. Karena memang imunisasi campak di Kelurahan Wosi masih sangat rendah, dengan adanya penolakan dari orang tua sehingga teman-teman yang mau melakukan penyuntikan masih banyak mendapat penolakan,” ujar Selviana Senin, (28/9/26).
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena wilayah kerja Puskesmas Wosi turut menjadi bagian dari upaya penanggulangan KLB campak di Kabupaten Manokwari.
Karena itu, Puskesmas Wosi akan meningkatkan koordinasi dan kerja sama dengan berbagai pihak untuk mendukung pelaksanaan imunisasi campak secara massal kepada masyarakat, khususnya anak-anak yang menjadi sasaran imunisasi.
“Kami berharap ada kerja sama yang baik sehingga teman-teman bisa turun dan kita melakukan penyuntikan secara massal, terutama untuk penanganan KLB campak ini,” katanya.
Selviana menyebutkan, pelayanan Puskesmas Wosi mencakup lima kampung dan satu kelurahan di wilayah Distrik Manokwari Barat. Dukungan masyarakat, terutama orang tua, dinilai sangat diperlukan agar pelaksanaan imunisasi dapat menjangkau sasaran secara optimal.
Selain menjelaskan upaya penanganan campak, Selviana juga menyampaikan kondisi pelayanan Puskesmas Wosi yang untuk sementara dipindahkan ke Puskesmas Pembantu (Pustu) Rendani. Pemindahan dilakukan karena gedung Puskesmas Wosi sedang dalam proses pembangunan.
Pelayanan di Pustu Rendani telah berlangsung sejak 20 Agustus 2026. Meski lokasi pelayanan berpindah, ia memastikan masyarakat tetap memperoleh pelayanan kesehatan seperti sebelumnya.
“Sejak tanggal 20 Agustus kami sudah melaksanakan tugas di Puskesmas Pembantu Rendani. Masyarakat yang datang untuk melakukan pengobatan dan pelayanan lainnya tetap dilayani sama seperti ketika kami masih berada di gedung Puskesmas Wosi,” jelasnya.
Selviana mengakui perpindahan tersebut membuat jarak pelayanan menjadi lebih jauh bagi sebagian masyarakat. Namun, kondisi itu tidak menghentikan masyarakat untuk datang memperoleh pelayanan kesehatan.
“Memang dengan kondisi yang cukup jauh, tetapi masyarakat tetap datang untuk mencari dan mendapatkan pelayanan,” ujarnya.
Sementara terkait pembangunan Puskesmas Wosi, Selviana menyebut pekerjaan ditargetkan berlangsung selama sekitar empat bulan atau 130 hari sesuai jadwal pihak kontraktor.
Setelah pembangunan rampung, seluruh aktivitas pelayanan kesehatan yang saat ini berlangsung di Pustu Rendani akan kembali dipusatkan di Puskesmas Wosi.
“Kami berharap setelah pembangunan selesai, kami sudah bisa kembali dan melakukan aktivitas pelayanan di Puskesmas Wosi,” terang Selviana. (ALW/ON).
