BerandaPertanianPetani Waninggap Kai Usulkan Irigasi Tenaga Surya untuk Kurangi Ketergantungan BBM

Petani Waninggap Kai Usulkan Irigasi Tenaga Surya untuk Kurangi Ketergantungan BBM

- Advertisement -spot_img

MERAUKE, — Petani di wilayah Waninggap Kai, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, menghadapi kendala dalam memenuhi kebutuhan air untuk kegiatan penanaman dan pemeliharaan padi. Sistem pengairan yang tersedia mengharuskan petani memindahkan air secara estafet hingga tiga tahap dengan jarak distribusi mencapai sekitar 1,4 kilometer.

Sumber air utama saat ini berasal dari penampungan air hujan atau long storage yang dibangun melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) pada 2025. Penampungan tersebut memiliki konstruksi bersekat sehingga air harus dipindahkan secara bertahap sebelum dapat mencapai areal persawahan.

Distribusi air dimulai dengan memindahkan air dari satu sekat ke sekat lainnya di dalam long storage. Selanjutnya, air dipompa menuju parit primer sebelum kembali dinaikkan ke petakan sawah.

Dalam proses tersebut, petani masih mengandalkan mesin pompa berbahan bakar minyak (BBM). Ketergantungan terhadap BBM menjadi salah satu tantangan karena kebutuhan bahan bakar menyebabkan biaya operasional pengairan cukup tinggi.

Kondisi itu mendorong para petani mengharapkan dukungan pemerintah maupun pihak terkait untuk mengembangkan sistem irigasi perpompaan yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Salah satu usulan yang disampaikan adalah melakukan konversi sumber energi mesin pompa dari BBM ke energi terbarukan, seperti tenaga surya melalui solar cell maupun memanfaatkan tenaga angin.

Pemanfaatan energi terbarukan dinilai dapat membantu menekan biaya operasional sekaligus menjaga keberlanjutan pengairan lahan pertanian tanpa sepenuhnya bergantung pada ketersediaan BBM.

Meski menghadapi kendala pengairan, kegiatan pertanaman yang dimulai sejak 4 Juli 2026 tetap berjalan dengan menerapkan sejumlah metode tanam.

Pada petak pertama, penanaman dilakukan menggunakan mesin transplanter dengan benih yang diperoleh dari Kampung Bersehati, Distrik Tanah Miring.

Sementara pada petak kedua, petani menerapkan metode tebar benih menggunakan drone. Adapun petak ketiga menggunakan alat drum seeder.

Penerapan tiga metode penanaman tersebut menghasilkan produktivitas lebih dari 4 ton Gabah Kering Panen (GKP). Hasil tersebut menunjukkan potensi pengembangan produksi padi di wilayah tersebut, terutama apabila dukungan sarana pengairan dan sumber energi dapat ditingkatkan. (MRN/RR/ON)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini