Orideknews.com, Merauke, – Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) yang dijalankan Kementerian Pertanian terus memberikan dampak nyata bagi masyarakat di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Program ini tidak hanya mendukung peningkatan produksi padi nasional, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi masyarakat asli Papua melalui peningkatan kesejahteraan dan penguatan ketahanan pangan keluarga.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Program Cetak Sawah Rakyat merupakan langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
“Kementerian Pertanian terus mendorong pemanfaatan lahan melalui Program Cetak Sawah Rakyat. Gerakan tanam serentak diharapkan mampu meningkatkan produksi padi, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan pendapatan petani,” ujar Amran.
Senada dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan pengembangan Cetak Sawah Rakyat terus diperluas, termasuk di Kabupaten Merauke, sebagai bagian dari percepatan swasembada pangan nasional melalui pemanfaatan lahan potensial dan penguatan kapasitas sumber daya manusia pertanian.
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin, menambahkan bahwa keberhasilan Program Cetak Sawah Rakyat tidak hanya ditentukan oleh pembukaan lahan, tetapi juga melalui modernisasi pertanian, pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan), pendampingan berkelanjutan, serta keterlibatan generasi muda melalui Brigade Pangan.
Manfaat program tersebut kini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat adat Papua. Salah satu pemilik hak ulayat Kampung Kumbe, Distrik Malind, Kabupaten Merauke, Fransiskus Xaverius Ndike, mengaku kehidupan keluarganya mengalami perubahan sejak mengikuti Program Cetak Sawah Rakyat.
Menurutnya, transformasi dari sistem pertanian tradisional menuju pertanian modern telah meningkatkan produktivitas lahan sekaligus memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat.
“Kami sangat bersyukur kepada Pemerintah Indonesia yang telah membuka lahan pertanian, menyediakan alat dan mesin pertanian, serta mendampingi kami dalam mengelola usaha tani,” ujarnya.
Fransiskus mengungkapkan, hasil panen yang diperoleh kini mampu memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Jika sebelumnya masih membeli beras dari luar daerah, kini keluarganya telah mengonsumsi hasil panen sendiri bahkan mampu menyimpan hingga satu ton beras sebagai cadangan pangan.
“Manfaat Program Cetak Sawah Rakyat sangat besar bagi ekonomi keluarga kami. Dulu kami membeli beras, sekarang kami sudah bisa makan dari hasil panen sendiri dan masih memiliki cadangan untuk kebutuhan berikutnya,” katanya saat ditemui Jumat (3/7/2026).
Peningkatan hasil pertanian juga berdampak pada bertambahnya pendapatan keluarga.
“Dari hasil bertani kami bahkan bisa membeli sepeda motor secara tunai,” tambahnya.
Dalam pelaksanaan program, masyarakat asli Papua menjalin kolaborasi yang erat dengan petani nusantara yang telah lebih dahulu mengembangkan usaha tani di wilayah tersebut. Sinergi ini menjadi sarana transfer pengetahuan dan pengalaman sehingga kemampuan petani lokal dalam mengelola lahan terus meningkat.
“Kami masih banyak belajar dari saudara-saudara petani nusantara. Mereka membimbing kami mulai dari teknik budidaya hingga pemupukan. Berkat pendampingan itu, yang sebelumnya hanya satu kali tanam dalam setahun, sekarang kami sudah bisa melakukan dua kali musim tanam,” jelas Fransiskus.
Sebagai pemilik hak ulayat, Fransiskus menjelaskan bahwa pemanfaatan lahan pertanian dilakukan berdasarkan prosesi adat Segel yang telah dilaksanakan sejak 2017 sebagai bentuk persetujuan masyarakat adat terhadap pengelolaan lahan.
Tokoh masyarakat adat Hermanus Mahuse menjelaskan bahwa Segel merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Malind sebagai bentuk pengesahan penyerahan atau pemanfaatan suatu wilayah kepada pihak lain sesuai ketentuan adat.
Menurut Hermanus, Program Cetak Sawah Rakyat tidak hanya meningkatkan produksi pertanian, tetapi juga memperkuat hubungan antara masyarakat asli Papua dan masyarakat nusantara melalui semangat gotong royong dan saling belajar.
“Program ini telah membawa perubahan positif bagi masyarakat. Selain meningkatkan kemampuan petani dan produksi pangan, juga mendorong pertumbuhan ekonomi keluarga serta memperkuat kebersamaan antara masyarakat adat dan masyarakat nusantara di Merauke,” pungkasnya. (MRN/RR/ON).