Top 5 This Week

Related Posts

PKB Dinkes Papua Barat Temukan Suspek TB Lansia dan Pasien Stroke Terkendala Akses Layanan

Orideknews.com, MANOKWARI, – Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat telah menggelar Pelayanan Kesehatan Bergerak (PKB) di Kabupaten Manokwari pada 15–18 Mei 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Kampung Syou, Asarbey, dan Amber tersebut menjadi upaya pemerintah untuk mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat yang tinggal di wilayah dengan akses terbatas terhadap fasilitas kesehatan.

Pelayanan kesehatan ini melibatkan tenaga kesehatan lintas bidang serta sejumlah dokter spesialis, di antaranya dokter spesialis anak dr. Maria C.H. Warwe, Sp.A, dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorok (THT) dr. Asmawati Adnan, Sp.T.H.T.K.L, serta dr. Siti R. Saifoeddin, MPH dan dr. Amelya Matasik.

Selama pelaksanaan kegiatan, ratusan warga dari berbagai kelompok usia memanfaatkan layanan kesehatan yang disediakan. Mulai dari anak-anak, ibu hamil, hingga lanjut usia datang untuk menjalani pemeriksaan kesehatan secara gratis.

Berbagai layanan diberikan kepada masyarakat, meliputi pemeriksaan kolesterol, gula darah, asam urat, tes malaria, pemeriksaan kesehatan umum, hingga pengukuran tinggi badan, berat badan, lingkar perut, dan lingkar lengan guna menilai status gizi warga.

Pelayanan dilakukan dengan sistem jemput bola, di mana tim kesehatan turun langsung ke kampung-kampung untuk menjangkau masyarakat yang selama ini mengalami kendala akses menuju fasilitas kesehatan akibat jarak, kondisi geografis, maupun keterbatasan sarana transportasi.

Dalam pelayanan di Kampung Amber dan Asarbey, dr. Amelya Matasik mengaku menemukan sejumlah persoalan kesehatan yang cukup banyak dikeluhkan masyarakat. Mayoritas pasien datang dengan keluhan gangguan kulit kepala berupa ketombe serta gangguan lambung.

Selain itu juga menemukan dua pasien lanjut usia yang diduga mengalami Tuberkulosis (TB) atau masuk kategori suspek TB geriatri. Kondisi ini memerlukan perhatian lebih lanjut karena gejala TB pada lansia sering kali tidak menunjukkan tanda-tanda yang khas sehingga berisiko terlambat terdeteksi.

“Pada lansia, gejala seperti penurunan berat badan, mudah lelah, hingga demam ringan sering dianggap sebagai bagian dari proses penuaan. Karena itu diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan kondisi pasien,” ujar dr. Amelya. Minggu, (31/5/26) saat dimintai keterangan.

Ia menjelaskan, pihaknya juga menemukan seorang pasien pasca-stroke yang telah dua bulan tidak menjalani kontrol kesehatan. Berdasarkan informasi yang diperoleh, pasien tidak dapat melanjutkan pemeriksaan dan terapi rutin karena terkendala biaya transportasi menuju fasilitas kesehatan.

Menurutnya, pemulihan pasca-stroke membutuhkan rehabilitasi berkelanjutan, seperti fisioterapi, terapi okupasi, maupun terapi wicara untuk membantu memulihkan fungsi tubuh yang terganggu.

“Proses pemulihan dapat berlangsung dalam waktu yang cukup lama dan memerlukan dukungan keluarga serta kepatuhan pasien dalam menjalani terapi,” ujar dr.Amelya.

Ia menilai, temuan-temuan tersebut menunjukkan masih adanya tantangan pelayanan kesehatan di sejumlah wilayah, khususnya bagi masyarakat yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan.

“Melalui Pelayanan Kesehatan Bergerak, Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat ini, harapannya masyarakat tetap memperoleh pelayanan kesehatan dasar sekaligus mendeteksi berbagai masalah kesehatan sejak dini,” tuturnya. (ALW/ON)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles