BerandaKesehatanPelayanan Kesehatan Terintegrasi Dinkes Papua Barat di Rasiei, Puluhan OAP Jalani Skrining...

Pelayanan Kesehatan Terintegrasi Dinkes Papua Barat di Rasiei, Puluhan OAP Jalani Skrining PTM

- Advertisement -spot_img

Orideknews.com, TELUK WONDAMA, Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat melalui Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) terus memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit hingga ke tingkat kampung melalui pelaksanaan pelayanan kesehatan terintegrasi yang menyasar masyarakat secara langsung.

Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan integrasi pelayanan kesehatan yang dilaksanakan bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Wondama dan Puskesmas Rasiei di Kampung Rasiei, Distrik Rasiei, Kabupaten Teluk Wondama, Kamis (2/7/2026).

Kegiatan ini menghadirkan berbagai layanan kesehatan secara terpadu dalam satu lokasi pelayanan, mulai dari skrining penyakit menular, penyakit tidak menular (PTM), surveilans imunisasi, pemeriksaan status gizi, hingga pengobatan massal bagi masyarakat setempat.

Pelayanan kesehatan terintegrasi tersebut menjadi salah satu strategi pemerintah dalam mendekatkan akses layanan kesehatan kepada masyarakat, terutama bagi warga yang tinggal di kampung-kampung dan wilayah yang masih membutuhkan perhatian lebih dalam upaya pencegahan serta pengendalian penyakit.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, dr.Alwan Rimosan, mengatakan bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya berbicara mengenai pengobatan terhadap masyarakat yang sudah sakit, tetapi juga bagaimana mendeteksi lebih awal berbagai faktor risiko penyakit sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kondisi masyarakat menjadi lebih berat.

Menurutnya, deteksi dini merupakan salah satu langkah paling efektif dalam menekan angka kesakitan maupun mencegah terjadinya komplikasi penyakit yang dapat berdampak pada kualitas hidup masyarakat.

“Pelayanan kesehatan terintegrasi ini merupakan bagian dari upaya mendekatkan akses pelayanan kepada masyarakat sekaligus memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit di tingkat kampung,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan pelayanan kesehatan secara terpadu memungkinkan petugas kesehatan melakukan pemetaan masalah kesehatan masyarakat secara lebih menyeluruh, sehingga intervensi yang dilakukan nantinya dapat lebih tepat sasaran sesuai kebutuhan warga di lapangan.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 79 warga Orang Asli Papua (OAP) mengikuti pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Seluruh peserta yang menjalani pemeriksaan merupakan warga OAP yang berasal dari Kampung Rasiei dan wilayah sekitarnya.

Para peserta menjalani serangkaian pemeriksaan yang mengintegrasikan skrining penyakit menular, penyakit tidak menular, pemeriksaan status gizi, hingga skrining status imunisasi guna mendeteksi secara dini berbagai persoalan kesehatan yang berpotensi dialami masyarakat.

Pada kelompok penyakit menular, petugas kesehatan melakukan skrining terhadap sejumlah penyakit yang hingga kini masih menjadi perhatian di Papua Barat, yakni HIV/AIDS, Malaria, Kusta, Frambusia, Tuberkulosis, serta pemeriksaan Hepatitis B khusus bagi ibu hamil.

Pemeriksaan Hepatitis B terhadap ibu hamil dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan penularan penyakit dari ibu kepada bayi yang dikandungnya, sehingga risiko infeksi pada bayi dapat ditekan sedini mungkin.

Skrining penyakit menular dilakukan melalui proses wawancara, pengumpulan informasi kesehatan masyarakat, serta pemeriksaan awal oleh petugas kesehatan.

Petugas juga menanyakan berbagai gejala yang mungkin dialami masyarakat, termasuk adanya luka lama yang tidak kunjung sembuh pada kaki atau bagian tubuh lainnya yang dapat menjadi indikasi awal penyakit frambusia maupun kusta.

Pendekatan ini dinilai penting karena masih banyak masyarakat yang menganggap luka kronis atau perubahan pada kulit sebagai kondisi biasa sehingga tidak segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Selain penyakit menular, perhatian besar juga diberikan terhadap penyakit tidak menular yang dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami peningkatan dan menjadi penyebab utama kematian di Indonesia.

Dalam pemeriksaan tersebut, masyarakat menjalani skrining status gizi, pemeriksaan tekanan darah untuk mendeteksi risiko hipertensi, pemeriksaan kadar gula darah guna mengetahui potensi Diabetes Mellitus, pemeriksaan kadar kolesterol dan asam urat, hingga pemeriksaan kesehatan khusus bagi perempuan.

Skrining kesehatan perempuan meliputi pemeriksaan kanker payudara serta skrining kanker serviks sebagai upaya meningkatkan deteksi dini terhadap penyakit yang sering kali baru diketahui ketika sudah memasuki stadium lanjut.

Melalui pemeriksaan yang dilakukan sejak dini, masyarakat diharapkan dapat memperoleh pengobatan dan penanganan lebih cepat sehingga peluang kesembuhan menjadi lebih besar.

Selain pemeriksaan penyakit, tim kesehatan juga melakukan skrining status imunisasi bagi masyarakat guna memastikan perlindungan terhadap penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi tetap terjaga.

Pemeriksaan tersebut mencakup status imunisasi tetanus pada anak-anak, calon pengantin, hingga ibu hamil.

Langkah tersebut dinilai penting karena imunisasi masih menjadi salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling efektif dalam mencegah munculnya penyakit menular yang berpotensi menyebabkan kecacatan bahkan kematian.

Hasil pemeriksaan serta jumlah kasus yang ditemukan selama kegiatan pelayanan kesehatan terpadu masih dalam proses rekapitulasi oleh tim kesehatan.

Data hasil pemeriksaan tersebut nantinya akan menjadi dasar bagi Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Wondama, maupun Puskesmas Rasiei untuk menentukan langkah tindak lanjut pelayanan kesehatan serta intervensi yang diperlukan di masyarakat.

“Data yang diperoleh dari kegiatan ini sangat penting untuk menentukan langkah lanjutan, baik dari sisi pengobatan, pemantauan, maupun edukasi kesehatan kepada masyarakat,” katanya.

Selain memberikan pelayanan kesehatan, kegiatan tersebut juga diisi dengan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat mengenai berbagai faktor risiko penyakit yang banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Kabid P2P Dinkes Papua Barat, Frans Abidondifu, S.KM.,M.Epid saat memberikan sosialisasi bahaya rokok dan pinang bagi kesehatan di Kampung Rasiei, Teluk Wondama.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, Frans Abidondifu, S.KM.,M.Epid memberikan peringatan kepada masyarakat mengenai bahaya kebiasaan merokok dan mengonsumsi pinang yang selama ini dianggap sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.

Menurutnya, kebiasaan tersebut memiliki dampak kesehatan yang sangat serius, mulai dari gangguan pernapasan, kanker, hingga berkontribusi terhadap masalah stunting pada anak.

Dalam penyuluhan tersebut, Frans menjelaskan bahwa ketika rokok dibakar, terdapat dua jenis asap yang dihasilkan, yakni asap utama yang dihirup langsung oleh perokok dan asap sampingan atau side stream yang menyebar ke udara sekitar.

Asap sampingan ini justru sangat berbahaya karena dari sekitar 34 bahan kimia awal yang terkandung dalam rokok dapat menghasilkan sekitar 7.000 bahan kimia baru yang bersifat racun dan mudah terhirup oleh orang lain, terutama anak-anak yang berada di sekitar perokok.

“Satu batang rokok itu bukan dibuat dari bahan sayuran seperti daun singkong atau kangkung. Itu campuran cengkeh dengan bahan kimia berbahaya, seperti racun semut hingga bahan pembuat korek api agar rokok bisa terus menyala,” tegas Frans saat memberikan penyuluhan kepada masyarakat.

Ia juga menjelaskan bahwa puntung rokok mengandung bahan plastik PVC yang sangat sulit terurai meskipun dibuang ke lingkungan maupun ke laut.

Tidak hanya itu, pembakaran puntung rokok juga menghasilkan ribuan zat kimia yang dapat memicu terjadinya kanker mulut dan berbagai jenis kanker lainnya.

Karena itu, ia mengingatkan para perokok agar tidak merokok di dekat anak-anak maupun anggota keluarga lainnya karena paparan asap rokok dapat menyebabkan gangguan paru-paru, infeksi saluran pernapasan, hingga meningkatkan risiko penyakit kronis pada masa mendatang.

Selain rokok, Frans juga menyoroti kebiasaan mengonsumsi pinang yang sangat lekat dengan kehidupan masyarakat Papua.

Menurutnya, konsumsi pinang yang berlebihan dapat memberikan dampak kesehatan yang tidak kalah serius dibandingkan kebiasaan merokok.

Ia menjelaskan bahwa pinang dan sirih mengandung zat alkaloid arekolin yang dapat menghambat pembentukan sel darah merah sehingga menyebabkan seseorang lebih mudah mengalami anemia atau kekurangan darah.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius terutama bagi perempuan dan ibu hamil karena kurang darah dapat mengganggu proses penyaluran nutrisi kepada janin selama masa kehamilan.

Akibatnya, bayi yang dilahirkan berisiko memiliki berat badan rendah, mengalami gangguan pertumbuhan, kekurangan gizi, hingga stunting.

“Anak yang lahir bisa berbadan kurus, kurang gizi, dan mengalami stunting, di mana pertumbuhannya terhambat dan tidak sesuai dengan usia aslinya,” jelas Frans.

Ia juga mengingatkan masyarakat mengenai bahaya mencampur pinang dengan kapur yang selama ini menjadi kebiasaan umum di berbagai daerah di Papua.

Reaksi kimia dari campuran tersebut diketahui berpotensi menyebabkan kanker mulut apabila dikonsumsi dalam jangka panjang dan terus menerus.

Frans menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang menyimpan pinang di dalam mulut dalam waktu lama, bahkan sejak malam hingga pagi hari.

Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat merusak selaput lendir mulut, menyebabkan luka permanen yang sulit sembuh, dan pada akhirnya berkembang menjadi kanker mulut.

Selain dampak fisik, konsumsi pinang juga dapat menimbulkan efek ketergantungan secara psikologis yang memiliki kemiripan dengan rokok.

Pinang memang memberikan efek tertentu seperti meningkatkan semangat bekerja dan membuat pengguna merasa lebih segar karena memicu jantung bekerja lebih keras.

Namun di sisi lain, seseorang yang terbiasa mengonsumsi pinang dalam jumlah besar dapat mengalami rasa malas, sulit berkonsentrasi, dan merasa tidak nyaman ketika berhenti mengonsumsinya.

Frans lalu mengajak masyarakat Kampung Rasiei untuk mulai membatasi konsumsi pinang, mengurangi kebiasaan merokok, serta menjaga kebersihan mulut dengan menyikat gigi secara teratur.

Ia berharap masyarakat memiliki kemauan yang kuat untuk menjaga kesehatan diri dan keluarga demi masa depan generasi Papua yang lebih sehat dan produktif.

“Jika kita ingin anak-anak sehat, kita harus membatasi diri dan tidak merokok di dekat mereka,” pesannya. (ALW/ON).

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini