Orideknews.com, Manokwari – Pemerintah Provinsi Papua Barat melalui Dinas Kesehatan kembali melaksanakan Program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang rutin digelar setiap Agustus dan November. Program ini bertujuan melengkapi imunisasi dasar dan lanjutan bagi anak usia sekolah.

Pengelola Program Imunisasi Dinas Kesehatan Papua Barat, Hendrik Marisan, menyatakan bahwa BIAS bukanlah program baru, melainkan kegiatan tahunan untuk memperkuat perlindungan kesehatan anak.
“BIAS adalah program rutin untuk melengkapi status imunisasi dasar yang diberikan sebelum usia satu tahun dan lanjutan saat anak berusia dua tahun. Imunisasi di sekolah penting karena antibodi dari vaksin sebelumnya mulai menurun,” jelas Hendrik, Jum’at (8/8/25).
Pada pelaksanaan BIAS Agustus tahun ini, vaksin MR (Campak Rubella) diberikan kepada siswa kelas 1 SD, sementara vaksin HPV (Human Papilloma Virus) untuk mencegah kanker serviks diberikan kepada siswi kelas 5 SD, serta siswi kelas 6 dan 9 yang belum menerima vaksin tersebut di tahun sebelumnya.
“Vaksin HPV ini sangat mahal, tetapi sekarang disediakan gratis oleh pemerintah. Kami berharap tidak ada penolakan, karena ini bagian dari upaya mencegah kanker serviks yang angkanya masih tinggi di Indonesia, termasuk Papua Barat,” ujar Hendrik.
Hendrik juga mengaku, mulai tahun ini vaksin HPV cukup diberikan satu kali dosis sesuai kebijakan Kementerian Kesehatan. Perubahan ini mendorong adanya imunisasi kejar bagi siswi yang belum menerima vaksin.
Menanggapi Program BIAS, Sekretaris Jenderal Dewan Adat Papua (DAP) Wilayah III Doberay, Zakarias Horota, mengingatkan agar pemerintah daerah memastikan keterbukaan informasi terkait BIAS. Ia menilai, sosialisasi yang jelas akan mencegah kesalahpahaman di masyarakat.
“Program BIAS ini harus disosialisasikan kepada masyarakat, sehingga para orang tua tahu imunisasi apa sebenarnya. Jangan sampai ada anggapan keliru, misalnya dikaitkan dengan program uji coba vaksin dari pihak luar seperti Bill Gates,” kata Zakarias.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memang sempat mengumumkan bahwa Indonesia dipilih sebagai lokasi uji coba vaksin tuberkulosis (TBC) oleh Bill & Melinda Gates Foundation, mengingat tingginya angka penderita TBC di Tanah Air. Namun, Zakarias menegaskan, informasi seperti ini harus dijelaskan secara terpisah agar tidak menimbulkan kebingungan dengan program imunisasi rutin seperti BIAS.
Hendrik kembali memastikan, koordinasi terkait pelaksanaan BIAS telah dilakukan secara berjenjang dari Kementerian Kesehatan hingga pemerintah daerah, melibatkan Dinas Pendidikan dan kepala sekolah untuk menyampaikan informasi langsung kepada orang tua murid.
“Program BIAS adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan anak sejak dini dan melindungi mereka dari penyakit menular yang berpotensi membahayakan di masa depan,” pungkas Hendrik. (ALW/ON)




