Orideknews.com, MANOKWARI SELATAN – Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat kembali menggelar Pelayanan Kesehatan Bergerak (PKB) di Distrik Isim, Kabupaten Manokwari Selatan, pada 2–5 Agustus 2026.
Program ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Papua Barat untuk memperluas akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil dan sulit dijangkau.
Pelayanan dipusatkan di sejumlah kampung, yakni Isim, Tubes, Duhugesa, Umusi, Dibera, Inyuara, dan Tahosta. Pada hari pertama pelaksanaan, tim kesehatan memberikan layanan di Kampung Duhugesa, Umusi, Dibera, dan Inyuara.
Puluhan warga dari berbagai kelompok usia memadati lokasi pelayanan untuk memeriksakan kondisi kesehatan mereka. Mulai dari anak-anak, ibu hamil, hingga masyarakat dewasa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperoleh layanan kesehatan secara gratis.

Dalam sehari, tim PKB berhasil melayani sebanyak 192 pasien, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Pelayanan Kesehatan Bergerak yang dikoordinasikan Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes) Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat melibatkan tenaga kesehatan lintas bidang serta sejumlah dokter spesialis, yakni dokter spesialis anak dr. Maria C.H. Warwe, Sp.A, dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorok dr. Asmawati Adnan, Sp.T.H.T.K.L, serta dr. Siti R. Saifoeddin, MPH, dr. Fransiska R. Liling, Sp.PD, dan dr. Nur Wahida.
Berbagai layanan kesehatan diberikan kepada masyarakat, mulai dari pemeriksaan tekanan darah, kolesterol, gula darah, asam urat, tes malaria, hingga pengukuran tinggi badan, berat badan, lingkar perut, dan lingkar lengan atas untuk menilai status gizi warga.
Pelayanan dilakukan dengan sistem jemput bola, di mana tim medis mendatangi langsung kampung-kampung yang memiliki keterbatasan akses menuju fasilitas kesehatan.
Perjalanan menuju Distrik Isim menjadi tantangan tersendiri bagi tim kesehatan. Kondisi jalan yang sebagian besar belum memadai membuat kendaraan berpenggerak empat roda (4×4) menjadi satu-satunya moda transportasi yang dapat digunakan.
Saat musim hujan, jalan menuju wilayah tersebut berubah menjadi berlumpur dan sangat sulit dilalui. Dari ibu kota Kabupaten Manokwari Selatan di Ransiki, perjalanan menuju lokasi pelayanan memerlukan waktu sekitar tiga hingga empat jam, sehingga total waktu tempuh pulang-pergi mencapai enam hingga tujuh jam.
Tim PKB harus berangkat sejak dini hari agar dapat tiba di lokasi pelayanan tepat waktu dan memberikan pelayanan hingga menjelang matahari terbenam.
Selain kondisi jalan yang menantang, sebagian wilayah Distrik Isim juga belum menikmati pasokan listrik selama 24 jam serta belum memiliki jaringan telekomunikasi yang memadai. Kondisi tersebut menjadikan kehadiran Pelayanan Kesehatan Bergerak sangat dinantikan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, dr. Alwan Rimosan, melalui Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes), Thomas O. Saghawari, mengatakan program Pelayanan Kesehatan Bergerak merupakan salah satu program prioritas yang sejalan dengan visi dan misi Gubernur Papua Barat dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan hingga ke wilayah pelosok.
Menurut Thomas, PKB dirancang untuk menjangkau masyarakat yang tinggal di daerah dengan akses terbatas dan belum terlayani secara optimal oleh fasilitas kesehatan reguler, seperti puskesmas maupun rumah sakit.
“PKB ini menyasar daerah-daerah yang tidak terjangkau layanan reguler. Kita turun langsung ke kampung dengan melibatkan berbagai bidang, mulai dari kesehatan masyarakat, pencegahan penyakit, hingga sumber daya manusia kesehatan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pendekatan dalam program tersebut tidak hanya berfokus pada pelayanan kuratif atau pengobatan, tetapi juga mengedepankan upaya promotif dan preventif melalui edukasi kesehatan kepada masyarakat.
“Harapannya setelah kita tinggalkan, masyarakat punya pemahaman yang cukup untuk menjaga kesehatan mereka, karena akses ke fasilitas kesehatan masih terbatas,” katanya.
Thomas menyebut, kehadiran dokter spesialis dalam kegiatan tersebut menjadi nilai tambah bagi masyarakat yang selama ini belum pernah mendapatkan pelayanan langsung dari tenaga medis spesialis.
“Ini mungkin hal baru bagi masyarakat di kampung. Kehadiran dokter spesialis tentu sangat membantu. Walaupun anggarannya terbatas, ini menjadi model pelayanan yang diharapkan bisa diikuti oleh kabupaten,” pungkasnya. (ALW/ON).