Orideknews.com, MANOKWARI, – Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari terus mendorong transformasi pertanian di Tanah Papua melalui penguatan pangan lokal berbasis sagu dan pemanfaatan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mencetak sumber daya manusia pertanian yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Modernisasi pertanian merupakan salah satu strategi utama pemerintah dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha tani, serta menghadapi tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan pangan. Pemanfaatan mekanisasi, digitalisasi, dan inovasi menjadi fondasi penting dalam mewujudkan pertanian Indonesia yang maju, mandiri, dan modern.
Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa transformasi pertanian harus dilakukan secara menyeluruh melalui penerapan inovasi dan teknologi modern. Menurutnya, pembangunan pertanian tidak lagi dapat mengandalkan cara-cara konvensional, tetapi harus diperkuat dengan mekanisasi, digitalisasi, dan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, serta petani guna mewujudkan kedaulatan pangan.
Sejalan dengan arahan tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti, mengatakan bahwa pengembangan sumber daya manusia merupakan kunci keberhasilan transformasi pertanian nasional. Melalui berbagai program peningkatan kapasitas, termasuk Millennial Agriculture Forum (MAF), BPPSDMP terus mendorong lahirnya generasi muda pertanian yang inovatif, adaptif terhadap teknologi, dan mampu mempercepat hilirisasi sektor pertanian.
Hal senada disampaikan Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin. Menurutnya, pendidikan vokasi pertanian harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam kompetensi teknis, tetapi juga menguasai mekanisasi, digitalisasi, dan pertanian presisi sebagai bekal menghadapi tantangan pembangunan pertanian masa depan.
Semangat tersebut menjadi fokus pembahasan dalam Millennial Agriculture Forum (MAF) Volume 7 Edisi 27 yang diselenggarakan Polbangtan Manokwari, Sabtu (4/7/2026).
Forum ini menghadirkan akademisi dan peneliti untuk membahas pengembangan komoditas sagu sebagai pangan lokal unggulan serta pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan dalam mendukung pertanian modern.
Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Papua, Insu Darma, menjelaskan bahwa sagu memiliki potensi strategis sebagai sumber pangan masa depan Papua. Selain kaya karbohidrat, sagu juga memiliki nilai sosial dan budaya yang sangat kuat bagi masyarakat adat sehingga pengembangannya harus disesuaikan dengan kondisi lokal.
“Masyarakat asli Papua memiliki keterikatan sosial budaya yang sangat kuat dengan sagu. Karena itu, teknologi yang dikembangkan harus sesuai dengan kondisi masyarakat, mudah digunakan, dan dapat diterapkan di tingkat komunitas,” ujarnya.
Ia menjelaskan Universitas Papua telah mengembangkan berbagai inovasi teknologi tepat guna yang telah memperoleh hak paten, seperti mesin ekstraksi pati sagu tipe vertikal dan horizontal serta mesin parut silinder yang mampu memarut batang sagu tanpa harus mengupas kulitnya terlebih dahulu.
Menurutnya, inovasi tersebut mampu meningkatkan efisiensi pengolahan sagu, mengurangi beban kerja masyarakat, sekaligus meningkatkan produktivitas pati sehingga memberikan nilai tambah ekonomi bagi pemilik dusun sagu.
Insu menegaskan bahwa mekanisasi bukan berarti mengurangi kesempatan kerja. Sebaliknya, penerapan teknologi justru membuka peluang usaha baru pada sektor pengolahan, distribusi, hingga industri hilir berbasis sagu.
Sementara itu, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Pradeka Brilian Kuriandoko, menjelaskan bahwa masa depan pertanian modern akan sangat ditentukan oleh kemampuan mengelola data.
Menurutnya, pemanfaatan citra satelit, sensor Internet of Things (IoT), drone, serta kecerdasan buatan memungkinkan petani memantau kondisi lahan secara real time, memprediksi hasil panen, dan mengambil keputusan budidaya secara lebih akurat.
“Data menjadi fondasi utama dalam sistem pertanian modern. Dengan teknologi digital, berbagai keputusan budidaya dapat dilakukan berdasarkan kondisi aktual di lapangan sehingga lebih efisien dan tepat sasaran,” jelasnya.
Pradeka juga memaparkan inovasi BRIN berupa teknologi evaluasi mutu pangan secara non-destruktif, yaitu metode pengujian kualitas tanpa merusak produk. Teknologi tersebut memanfaatkan sensor berbiaya rendah yang dipadukan dengan AI untuk menentukan tingkat sangrai kopi dengan tingkat akurasi mencapai sekitar 98 persen.
Meski demikian, ia mengakui bahwa penerapan pertanian digital masih menghadapi tantangan berupa tingginya investasi awal dan keterbatasan sumber daya manusia yang menguasai teknologi modern.
Karena itu, menurutnya, transformasi pertanian harus dilakukan melalui kolaborasi erat antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dunia usaha, dan masyarakat agar inovasi yang dihasilkan benar-benar dapat diterapkan oleh petani di lapangan.
Melalui Millennial Agriculture Forum ini, Polbangtan Manokwari menegaskan komitmennya dalam menyiapkan generasi muda sebagai motor penggerak pertanian modern. Sinergi antara kekuatan pangan lokal seperti sagu dengan pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan diyakini akan menjadi fondasi penting dalam membangun pertanian Papua yang produktif, berdaya saing, berkelanjutan, serta mampu mendukung ketahanan pangan nasional. (MRN/RR/ON).