Orideknews.com, Manokwari – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat, Merry, menyampaikan kinerja ekspor Papua Barat pada awal tahun 2026 mengalami penurunan secara tahunan, meski neraca perdagangan masih mencatatkan surplus. Hal tersebut disampaikan Merry dalam rilis resmi di kantornya, Rabu (1/4/26).
“Sepanjang Januari hingga Februari 2026, total nilai ekspor kumulatif Papua Barat mencapai 458,05 juta dolar AS atau turun 18,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujarnya.
Merry menjelaskan, ekspor Papua Barat masih didominasi komoditas gas alam dengan nilai mencapai 454,47 juta dolar AS, meski mengalami penurunan sebesar 16,71 persen secara tahunan.
Selain itu, kontribusi ekspor juga disumbang oleh sektor industri pengolahan. Adapun negara tujuan utama ekspor Papua Barat adalah Tiongkok, Korea Selatan dan Jepang. Ketiga negara tersebut berkontribusi hingga 96,99 persen terhadap total ekspor Papua Barat. Rinciannya, Tiongkok sebesar 213,31 juta dolar AS, Korea Selatan sebesar 128,22 juta dolar AS dan Jepang sebesar 102,73 juta dolar AS.
“Mayoritas ekspor berupa bahan bakar mineral,” jelas Merry.
Pada Februari 2026, nilai ekspor Papua Barat tercatat sebesar 230,81 juta dolar AS, naik 1,68 persen secara bulanan, namun turun 15,99 persen secara tahunan.
Untuk sektor migas, nilai ekspor mencapai 228,92 juta dolar AS, naik 1,41 persen secara bulanan, namun turun 15,99 persen secara tahunan.
Sementara itu, di Papua Barat Daya, total nilai ekspor kumulatif Januari–Februari 2026 mencapai 2,82 juta dolar AS, meningkat 41,79 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Ekspor di Papua Barat Daya didorong sektor industri pengolahan yang mencapai 1,78 juta dolar AS atau naik 22,23 persen,” kata Merry.
Negara tujuan utama ekspor Papua Barat Daya meliputi Jepang, Tiongkok dan Amerika Serikat.
Namun, pada Februari 2026, nilai ekspor Papua Barat Daya sebesar 1,1 juta dolar AS mengalami penurunan baik secara bulanan (36,29 persen) maupun tahunan (2,25 persen).
Dari sisi impor, Papua Barat mencatat total impor kumulatif sebesar 1,62 juta dolar AS, turun signifikan 79,83 persendibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan ini terutama dipicu oleh berkurangnya impor barang baku atau penolong.
“Seluruh impor Papua Barat berasal dari Oman, terutama komoditas garam, belerang, dan kapur,” ungkap Merry.
Bahkan pada Februari 2026, tidak tercatat adanya aktivitas impor barang yang masuk ke Papua Barat.
Berbeda dengan Papua Barat, impor di Papua Barat Daya justru meningkat. Sepanjang Januari–Februari 2026, nilai impor mencapai 0,57 juta dolar AS atau naik 100 persen.
Seluruh impor tersebut berasal dari Tiongkok, didominasi komoditas bahan bakar mineral.
Meski ekspor menurun, Papua Barat masih mencatat neraca perdagangan yang kuat. Pada Februari 2026, neraca perdagangan mengalami surplus sebesar 230,84 juta dolar AS.
“Surplus ini melanjutkan tren positif selama 14 bulan berturut-turut,” kata Merry.
Surplus tersebut berasal dari Neraca perdagangan migas: 228,92 juta dolar AS dan Neraca non-migas: 1,92 juta dolar AS.
Secara kumulatif Januari–Februari 2026, neraca perdagangan Papua Barat mencatat surplus sebesar 456,43 juta dolar AS, meski sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya. (ALW/ON).



