Orideknews.com, MERAUKE, — Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman mendorong percepatan transformasi pertanian di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, melalui penerapan Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM AAS).
Metode tersebut memadukan mekanisasi pertanian, penggunaan varietas unggul spesifik lokasi, pola tanam baru, serta pendampingan intensif untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi petani.
Saat melakukan tanam padi bersama petani di Kampung Waninggap Kai, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Sabtu (4/7/2026), Amran mengatakan penerapan PM AAS berpotensi meningkatkan produksi padi hingga dua kali lipat.
“Itu produksinya bisa naik dua kali lipat. PM AAS itu kombinasi antara metode Amerika, metode Indonesia, dan metode China. Itu kami teliti langsung. Produksinya bisa 12 ton atau katakanlah 10 ton per hektare,” kata Amran.
Menurutnya, peningkatan produktivitas dan indeks pertanaman melalui teknologi tersebut diharapkan berpengaruh langsung terhadap pendapatan serta kesejahteraan petani.
Penerapan PM AAS juga akan berjalan beriringan dengan program Cetak Sawah Rakyat dan Optimalisasi Lahan yang menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional, khususnya di Papua Selatan.
Populasi Tanaman Ditingkatkan
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Fadjry Djufry, menjelaskan PM AAS merupakan inovasi budidaya yang dikembangkan Kementerian Pertanian dalam dua tahun terakhir setelah mempelajari berbagai praktik pertanian modern di sejumlah negara.
Konsep tersebut kemudian disesuaikan dengan karakter agroekosistem Indonesia agar dapat diterapkan di berbagai wilayah, termasuk lahan rawa pasang surut di Merauke.
Menurut Fadjry, PM AAS tidak hanya mengandalkan alat dan mesin pertanian modern, tetapi juga mengubah sistem budidaya melalui pengaturan jarak tanam, peningkatan populasi tanaman, penggunaan varietas unggul, serta pemupukan yang lebih presisi.
“Pilot project yang kami lakukan di berbagai daerah menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan. Karena itu tahun ini PM AAS mulai diperluas di seluruh Indonesia dengan target penerapan mencapai satu juta hektare. Harapannya, produktivitas meningkat dan pendapatan petani ikut terdongkrak,” kata Fadjry.
Ia menjelaskan, salah satu perbedaan utama PM AAS dibanding metode konvensional adalah penerapan jarak tanam yang lebih rapat dan penggunaan sistem tabela atau tanam benih langsung.
Jika pada sistem tanam pindah populasi tanaman berkisar 250 ribu hingga 600 ribu tanaman per hektare, melalui metode tersebut populasinya dapat meningkat menjadi 800 ribu hingga satu juta tanaman per hektare.
“Cara tanam yang baru ini kita kombinasikan dengan kearifan lokal Indonesia. Dasarnya jarak tanam rapat. Kalau yang biasa tanam pindah populasinya 250 ribu sampai 600 ribu, dengan cara tanam sekarang bisa 800 ribu sampai satu juta,” jelasnya.
Menurut Fadjry, peningkatan populasi tersebut membuka peluang peningkatan produksi, sepanjang kebutuhan pupuk dan unsur hara tanaman dapat terpenuhi secara optimal.
Disesuaikan dengan Kondisi Merauke
Penerapan PM AAS di Merauke juga disesuaikan dengan karakteristik lahan setempat.
Fadjry mengatakan wilayah tersebut memiliki lahan pasang surut tipe C. Karena itu, varietas padi yang digunakan harus memiliki toleransi terhadap kondisi lahan setempat serta hama endemik.
“Kalau di sini lahan pasang surut tipe C, maka kita gunakan varietas-varietas yang lebih toleran. Di sini juga daerah endemik tungro, sehingga nanti ada Inpari 37 yang lebih toleran terhadap hama tungro,” terangnya.
Dalam proses tanam, petani dapat memanfaatkan drone untuk penebaran benih. Selain itu, kelompok tani juga bisa menggunakan alat sederhana berupa drum seeder.
Menurut Fadjry, penggunaan drum seeder dapat menekan biaya tanam secara signifikan.
“Dengan drum seeder biaya tanam lebih murah, bisa Rp400 ribu per hektare. Kalau di Papua sekitar Rp600 ribu per hektare,” ujarnya.
Petani Hemat Biaya Tanam
Manfaat metode tersebut mulai dirasakan petani yang telah menerapkannya.
Abdul Rohim, petani asal Kampung Candarajaya, Distrik Kurik, mengatakan penggunaan drum seeder atau paralon membuat proses tanam lebih efisien dibandingkan sistem tanam pindah.
Menurutnya, biaya tanam yang sebelumnya mencapai sekitar Rp3 juta per hektare kini dapat ditekan menjadi sekitar Rp600 ribu per hektare.
“Kalau sebelumnya biaya tanam sekitar Rp3 juta per hektare, sekarang cukup sekitar Rp600 ribu. Jadi bisa menghemat sekitar Rp2,4 juta per hektare. Dari pertumbuhannya juga kelihatan lebih sehat dan anakannya lebih banyak,” katanya.
Petani lainnya, Angga Dwi Hadianto, menilai penggunaan metode tanam baru yang dikombinasikan dengan drone juga membuat pekerjaan di lahan menjadi lebih cepat dan mengurangi kebutuhan tenaga kerja.
“Dari pertumbuhannya sudah terlihat lebih bagus dibanding cara lama. Kami juga lebih hemat tenaga karena penyemprotan menggunakan drone. Petani di sini optimistis hasilnya akan lebih baik,” pungkasnya.
Pemerintah berharap penerapan PM AAS dapat mempercepat modernisasi pertanian di Merauke sekaligus meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi dan memperkuat peran Papua Selatan sebagai salah satu kawasan produksi pangan nasional. (RR/ON)

