Orideknews.com, Manokwari, — Alam dan manusia tidak dapat dipisahkan. Pandangan inilah yang menjadi dasar pemikiran dalam buku Alkitab dan Konservasi Alam karya Prof. Sepus M. Fatem dan Pdt. Dr. Anthon Rumbewas yang menggabungkan pendekatan teologis dan ekologis untuk mendorong perubahan cara pandang terhadap lingkungan.

Menurut Prof. Fatem, Alkitab dipilih sebagai titik awal karena menjadi sumber nilai, pengetahuan, dan inspirasi bagi kehidupan manusia. Melalui perspektif iman, manusia diajak melihat alam bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai bagian dari sistem kehidupan yang utuh. Pendekatan ini dikenal sebagai ekoteologi cara memahami relasi manusia dan alam dari sudut pandang iman.
Kata Prof. Fatem, kerusakan lingkungan saat ini sebagian besar disebabkan oleh sikap manusia sendiri. Berbagai studi menunjukkan bahwa sekitar 80 hingga 95 persen perusakan sumber daya alam dipicu oleh cara pandang yang menempatkan alam semata sebagai mesin produksi.
“Selama ini manusia cenderung memposisikan alam sebagai sesuatu yang harus dieksploitasi. Padahal, manusia bukan penakluk alam, melainkan penata,” ujarnya.
Buku tersebut mendorong pergeseran dari paradigma antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat dan alam sebagai alat menuju biosentris, yakni memandang manusia dan alam sebagai mitra yang setara.
Di Tanah Papua, relasi manusia dengan alam memiliki makna yang lebih dalam. Tanah bukan hanya aset ekonomi, tetapi bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat. Banyak orang Papua, kata Prof. Fatem, lebih menilai kepemilikan tanah sebagai kekayaan utama dibandingkan benda-benda material.
“Jika alam rusak, kita tidak hanya kehilangan lingkungan, tetapi juga identitas budaya,” terang Prof. Fatem.
Ia menyatakan, sumber daya alam bukanlah warisan dari leluhur, melainkan titipan untuk generasi dimasa akan datang. Karena itu, upaya konservasi harus dilakukan secara kolektif oleh pemerintah, gereja, akademisi, dan masyarakat.
Buku ini juga mengulas soal perlunya perubahan pendekatan dari reaktif menjadi proaktif dalam menghadapi krisis lingkungan. Penanganan bencana tidak cukup dilakukan setelah terjadi, tetapi harus dimulai dengan langkah mitigasi dan pencegahan.
Pandemi COVID-19 di halaman 221 disebut sebagai salah satu momen refleksi. Di beberapa tempat, penurunan aktivitas industri selama pandemi berdampak pada membaiknya kualitas lingkungan dan mengingatkan manusia akan keterbatasannya.
Gagasan konservasi di Papua Barat, seperti konsep provinsi dan kabupaten konservasi, dinilai sebagai langkah strategis yang perlu diperkuat. Komitmen menjaga alam, menurut Prof. Fatem, juga harus diwujudkan melalui kebijakan pembangunan berkelanjutan.
Ia mengajak generasi muda Papua untuk berperan aktif, salah satunya melalui penulisan. Dengan menulis, masyarakat dapat mendokumentasikan realitas lingkungan dan menyuarakan pentingnya pelestarian alam sebagai warisan sekaligus tanggung jawab masa depan.
“Tanpa pohon, tidak ada kehidupan,” ujarnya, mengutip prinsip yang menegaskan bahwa keberlangsungan manusia sangat bergantung pada kelestarian alam.
Melalui buku yang hampir 300 halaman ini , ia berharap terjadi perubahan cara berpikir dalam melihat alam dari objek eksploitasi menjadi sahabat kehidupan demi keberlanjutan manusia dan bumi di Papua.
Buku Alkitab dan Konservasi Alam ini telah diluncurkan di Gedung GKI Petrus Amban, Manokwari, Selasa 10 Februari 2026. Peluncuran mewarnai rangkaian syukuran HUT 171 Pekabaran Injil di Tanah Papua. (ALW/ON).



