Orideknews.com, Manokwari – Universitas Papua (UNIPA) mencatatkan peristiwa penting dalam sejarah akademiknya melalui pengukuhan Profesor Dr. Hugo Warami, S.Pd.,M.Hum sebagai Guru Besar bidang Linguistik Antropologi, dan Linguistik Forensik. Pengukuhan berlangsung di Aula Universitas Papua, Manokwari, dan dihadiri pimpinan universitas, sivitas akademika, serta tamu undangan.
Sekretaris Senat Akademik Universitas Papua, Prof. Jhoni Marwa, S.Hut.,M.Si.,IPU dalam sambutannya usai mengukuhkan Prof Hugo menegaskan, pengukuhan tersebut memiliki makna strategis, tidak hanya bagi UNIPA, tetapi juga bagi pengembangan ilmu pengetahuan di Tanah Papua.
Menurutnya, terdapat empat makna penting dalam pengukuhan Guru Besar kali ini. Pertama, pengukuhan Prof. Hugo Warami menandai kesiapan Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua untuk melahirkan Guru Besar, menyusul fakultas lain yang lebih dahulu memiliki profesor.
Kedua, pengukuhan ini menjadi catatan historis, karena Prof. Hugo Warami tidak hanya merupakan dosen, tetapi juga Rektor Universitas Papua.
“Ini adalah kebanggaan institusi dan bukti bahwa kepemimpinan akademik di UNIPA dibangun di atas fondasi keilmuan yang kuat,” ujar Prof. Jhoni Marwa.
Ketiga, pengukuhan tersebut menambah daftar Guru Besar Orang Asli Papua, yang kini berjumlah lima orang. Mereka adalah Prof. Frans Wanggai, Prof. Jacob Manusawai, Prof. Sepus Fatem, Prof. Jhoni Marwa, dan Prof. Hugo Warami.
Keempat, pengukuhan ini juga bernilai historis karena Surat Keputusan penetapan Guru Besar Prof. Hugo Warami ditetapkan pada 10 Oktober 2022, bertepatan dengan rangkaian peringatan Satu Abad Peradaban Orang Asli Papua (OAP).
Prof. Johni Marwa menyampaikan, hingga perayaan 25 tahun Universitas Papua pada 3 November 2025, UNIPA telah memiliki 26 Guru Besar dari berbagai bidang ilmu. Sebarannya meliputi bidang pendidikan dan teknologi sebanyak tiga orang, pertanian enam orang, kehutanan delapan orang, peternakan empat orang, teknik dua orang, teknologi pertanian dua orang, serta bidang pendidikan lainnya satu orang. Dari jumlah tersebut, terdapat tiga Guru Besar perempuan.
Prof. Jhoni menilai bidang linguistik antropologi dan linguistik forensik memiliki relevansi yang sangat kuat, mengingat Papua memiliki keragaman bahasa dan budaya yang tinggi. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai penyimpan pengetahuan lokal, identitas sosial, dan sistem nilai masyarakat.
“Linguistik antropologi berperan penting dalam mendokumentasikan dan melestarikan kekayaan budaya Papua, sementara linguistik forensik berkontribusi dalam penegakan hukum melalui analisis bahasa secara ilmiah,” jelasnya.
Ia menyampaikan, pengukuhan Guru Besar merupakan puncak dari proses akademik yang panjang dan ketat, melalui penilaian karya ilmiah, rekam jejak pengajaran, serta pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, pengukuhan Prof. Hugo Warami merupakan pengakuan institusional atas kapasitas keilmuan, integritas akademik, dan konsistensi pengabdian.
Lebih lanjut, pengukuhan ini diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa Papua, bahwa prestasi akademik tertinggi dapat dicapai melalui ketekunan, disiplin, dan komitmen terhadap ilmu pengetahuan. Ia juga menegaskan bahwa Universitas Papua tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai ruang produksi pengetahuan yang berdampak bagi masyarakat.
“Ilmu pengetahuan adalah jalan pembebasan dan pengabdian. Perguruan tinggi harus memberi manfaat nyata bagi pembangunan Papua dan Indonesia,” ujar Prof. Jhoni Marwa. (ALW/ON).


