Orideknews.com, Manokwari, – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, Dr Alwan Rimosan, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS, khususnya di kalangan pelajar dan mahasiswa. Hal tersebut disampaikan dalam Stakeholder Meeting yang digelar di salah satu hotel di Manokwari, Kamis (9/4/2026).
Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang selama ini terlibat aktif dalam upaya edukasi dan pencegahan HIV/AIDS di Papua Barat.
“Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak tenaga kesehatan, tenaga pendidik, mitra pembangunan, serta organisasi masyarakat yang selama ini telah menjadi garda terdepan dalam edukasi, pencegahan, dan pendampingan terkait HIV/AIDS,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa HIV/AIDS masih menjadi tantangan serius di Tanah Papua dan kini telah menyasar populasi umum, sehingga membutuhkan perhatian bersama.
“Ini bukan lagi masalah kelompok tertentu, ini adalah tanggung jawab kita bersama. Pencegahan jauh lebih murah, lebih mudah, dan lebih bermartabat daripada pengobatan,” tegasnya.
Menurutnya, langkah pencegahan harus dimulai dari edukasi sejak dini, penerapan perilaku hidup sehat, penguatan nilai moral dan sosial, serta deteksi dini melalui skrining.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti peran strategis tenaga pendidik dalam membentuk generasi muda yang sehat dan bebas dari stigma.
“Tenaga pendidik bukan hanya pengajar, tetapi juga pelindung generasi. Guru dan dosen memiliki peran penting dalam memberikan edukasi yang benar tentang HIV/AIDS serta menghilangkan stigma dan diskriminasi,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa dampak HIV/AIDS tidak hanya pada aspek kesehatan, tetapi juga berdampak luas terhadap kualitas sumber daya manusia dan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
“Jika kita tidak serius, dampaknya adalah menurunnya kualitas generasi muda, meningkatnya beban ekonomi, hingga hilangnya potensi sumber daya manusia,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa orang dengan HIV (ODHIV) tetap dapat hidup sehat dan produktif jika mendapatkan pengobatan serta dukungan yang memadai.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya kerja sama semua pihak dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS.
“Tidak ada satu sektor pun yang bisa bekerja sendiri. Kita butuh kolaborasi antara dinas kesehatan, dinas pendidikan, sekolah, kampus, LSM, serta tokoh agama dan masyarakat,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Papua Barat, lanjutnya, berkomitmen untuk memperkuat layanan skrining HIV, menjamin ketersediaan pengobatan antiretroviral (ARV), serta mendorong program edukasi berbasis sekolah.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada anggaran, tetapi juga pada komitmen bersama.
“Keberhasilan tidak ditentukan oleh anggaran saja, tetapi oleh komitmen dan aksi nyata kita bersama,” tegasnya.
Ia mengajak seluruh peserta untuk tidak berhenti pada diskusi semata, tetapi segera mengambil langkah nyata.
“Jangan hanya berdiskusi, jangan hanya membuat rencana. Mari bertindak, mulai dari sekolah, lingkungan kerja, dan diri sendiri. Kita harus bergerak sekarang bukan nanti,” pungkasnya.
Ia berharap melalui pertemuan ini dapat terbangun komitmen bersama dalam mewujudkan Papua Barat yang sehat, kuat, dan bebas stigma, serta mampu melindungi generasi muda sebagai masa depan. (ALW/ON).




