Orideknews.com, Manokwari, – Momen perayaan Dies Natalis ke-51 Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Manokwari menjadi ajang refleksi mendalam bagi Ketua STIH Manokwari, Dr. Filep Wamafma, S.H., M.Hum.

Ia mengenang kembali sejarah pembangunan gedung kampus Wosi yang tidak lepas dari peran besar para pemimpin daerah. Filep mengungkapkan, infrastruktur STIH Manokwari saat ini merupakan wujud nyata kepedulian tokoh-tokoh Papua.
Filep menyebutkan, gedung lantai satu disisi kanan dibangun Dominggus Mandacan saat menjabat Gubernur periode pertama, sementara penyelesaian lantai dua dilanjutkan oleh almarhum Bupati Manokwari, Demas Mandacan.
“Pak Demas bahkan sudah meletakkan batu pertama untuk kelanjutan gedung sebelah kiri, namun beliau dipanggil Tuhan sehingga program itu terhenti. Beliau adalah sosok Bupati yang sangat peduli dengan pendidikan,” kenang Filep dengan penuh haru.
Meski mengapresiasi bantuan yang ada, Filep memberikan catatan mengenai keberlangsungan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Tanah Papua. Menurutnya, PTS tidak memiliki sumber pendapatan selain dari mahasiswa.
Filep mengibaratkan bahwa “saham” kampus 99,9 persen dipegang oleh orang tua mahasiswa. Kata dia, selama ini pihak kampus selalu mengedepankan kebijakan yang humanis terkait biaya kuliah, seperti sistem cicilan hingga toleransi bagi mahasiswa yang belum melunasi biaya meski sudah memasuki masa wisuda.
“Perguruan tinggi di Papua tidak akan berkembang tanpa dukungan pemerintah daerah. Kami menyadari keterbatasan anggaran dan efisiensi, namun pendidikan adalah investasi abadi yang hasilnya dirasakan selamanya,” ucapnya.
Lebih lanjut, Senator Papua Barat ini mengingatkan, kualitas pendidikan merupakan cerminan atau “wajah” dari suatu wilayah. Jika STIH Manokwari maju, maka nama baik Kabupaten Manokwari pun akan ikut terangkat di kancah nasional.
“Manokwari seharusnya bangga memiliki STIH. Ini adalah aset besar yang cikal bakalnya dari Yayasan Perguruan Tinggi Manokwari. Jika kampus ini megah dan berkualitas, orang dari seluruh Indonesia akan datang kuliah di sini. Itulah realisasi pembangunan pendidikan yang kita harapkan, bukan sekadar bicara,” terangnya.
Filep lalu mengajak seluruh alumni yang kini telah menduduki berbagai jabatan strategis untuk kembali menoleh ke almamater. Ia mengingatkan bahwa kontribusi alumni tidak melulu soal materi.
“Kami butuh pikiran, tenaga, hingga kolaborasi program. Kampus tidak akan maju tanpa dukungan alumni. Kami berharap ke depan ada alokasi khusus dalam APBD untuk mendukung pendidikan tinggi secara totalitas, agar kita bisa melahirkan lulusan yang unggul dan bersaing,” Pesan Filep. (ALW/ON).



