Orideknews.com, Manokwari – Tokoh intelektual Papua, Origenes Nauw, mendorong Pemerintah Provinsi Papua Barat bersama Pemerintah Pusat untuk melanjutkan penataan Pulau Mansinam sebagai kawasan wisata religi yang berkelanjutan dan terkelola secara profesional.

Hal tersebut disampaikan Origenes Nauw saat menghadiri perayaan HUT ke-171 Pekabaran Injil di Tanah Papua yang digelar di Pulau Mansinam, Manokwari, pada 5 Februari 2026.
Menurutnya, Pulau Mansinam merupakan tempat yang sakral dan memiliki nilai historis serta spiritual yang sangat tinggi bagi seluruh umat Kristiani di Tanah Papua.
“Pulau ini adalah tempat perjumpaan iman umat Kristiani Papua setiap tanggal 5 Februari. Karena itu, kawasan ini harus ditata kembali secara serius agar benar-benar layak menjadi kawasan wisata religi,” ujar Origenes kepada media ini.
Ia mengungkapkan, upaya penataan kawasan wisata religi Pulau Mansinam sebenarnya telah dirintis sekitar 15 tahun lalu oleh almarhum mantan Gubernur Papua Barat Octavianus Atarury dengan dukungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, hingga kini program tersebut dinilai terhenti dan belum dilanjutkan secara optimal.
Origenes menyarankan perlunya konsolidasi antara Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Pemerintah Pusat agar penataan kawasan dapat kembali dilanjutkan. Beberapa infrastruktur penting yang perlu dibangun antara lain jalan lingkar pulau, peningkatan fasilitas pelabuhan, serta penataan kawasan ibadah yang lebih representatif.
Lebih lanjut, ia mengusulkan pembentukan Badan Otorita Pengelola Kawasan Wisata Religi Pulau Mansinam yang diatur melalui Peraturan Daerah Khusus (Perdasus). Dengan adanya regulasi tersebut, pembangunan kawasan dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan pendanaan dari APBD maupun dana Otonomi Khusus.
“Kalau tidak ada Perdasus, setiap tahun anggaran hanya habis untuk kegiatan seremonial. Padahal dana itu bisa digunakan untuk membangun fasilitas permanen yang manfaatnya jangka panjang,” katanya.
Menurut Origenes, kawasan Pulau Mansinam memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat kegiatan rohani sepanjang tahun, seperti retret, meditasi, kontemplasi, konseling pastoral, bimbingan perkawinan, hingga wisata rohani.
Pengelolaan kawasan oleh badan otorita lanjut dia, juga memungkinkan adanya sistem sewa fasilitas yang hasilnya dapat digunakan untuk operasional, penggajian karyawan, dan promosi wisata religi hingga ke tingkat nasional dan internasional.
Ia berharap pemerintah daerah dan DPR Papua Barat dapat segera merespons gagasan tersebut demi menjaga nilai sakral Pulau Mansinam sekaligus mendorong pengembangan wisata religi yang tertata dan berkelanjutan. (ALW/ON).


