Jumat, Januari 30, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

HUT ke-171 PI, Sinode GKI-Pemda Diminta Kolaborasi Kembangkan Wisata Religi Pulau Mansinam

Orideknews.com, Manokwari — Ketua Komunitas Ketapang Diving Manokwari, Alexander Sitanala, menilai pengelolaan Pulau Mansinam secara berkelanjutan agar tidak hanya difungsikan sebagai destinasi wisata religi musiman, tetapi juga dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari dan wisata alam terpadu.

Ia menyatakan, pengamanan dan penataan Pulau Mansinam harus dilakukan secara menyeluruh, baik di darat maupun di laut.

Menurutnya, pulau bersejarah tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata yang tidak hanya bernilai religius, tetapi juga menarik dari sisi pariwisata laut seperti diving dan tur keliling pulau.

“Jangan jadikan Pulau Mansinam sebagai pulau musiman atau hanya ramai saat momentum HUT Pekabaran Injil setiap 5 Februari. Setelah acara selesai, pulau ini seperti dibiarkan kembali menjadi hutan,” ujar Alexander.

Kata dia, kondisi tersebut tidak sejalan dengan potensi besar yang dimiliki Pulau Mansinam. Karena itu, Alexander meminta di momen HUT ke-171 Pekabaran Injil (PI) kali ini, Sinode GKI di Tanah Papua untuk bersinergi dan berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam membangun Pulau Mansinam sebagai kawasan wisata berkelanjutan.

“Wisata religi harus tetap menjadi yang utama, tetapi perlu ditambah dengan wisata pilihan lain seperti diving dan wisata bahari. Dengan begitu, masyarakat setempat juga akan terdorong untuk menjaga pulau ini agar semakin baik,” katanya.

Ketua Komunitas Ketapang Diving, Alexander Sitanala.

Alexander optimis Pulau Mansinam dapat berkembang menjadi destinasi wisata lokal hingga mancanegara. Ia mencontohkan Israel yang dikenal dunia karena sejarah religiusnya.

“Kalau Israel bisa dikenal karena wisata sejarah dan religi, kenapa Pulau Mansinam tidak bisa?” ujarnya.

Ia juga menyentil kondisi museum di Pulau Mansinam yang dinilai memprihatinkan. Menurutnya, wisatawan mancanegara yang datang sering kali tidak mendapatkan pengalaman yang maksimal.

“Kami sudah beberapa kali mengantar wisatawan dari Belanda, Inggris, Amerika, dan negara lain. Saat sampai di sana, yang bisa dilihat hanya patung dan museum, itupun kondisinya sangat kurang. Untuk membaca informasi di dalam museum saja harus pakai senter handphone,” ungkapnya.

Ia berharap ke depan Sinode GKI bersama pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah nyata untuk membenahi fasilitas dan infrastruktur pendukung di Pulau Mansinam.

“Harapannya Sinode GKI mulai berkolaborasi dengan pemerintah daerah agar Pulau Mansinam benar-benar menjadi destinasi wisata religi yang layak dan membanggakan,” tambah Alexander. (ALW/ON).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles

error: Hati-hati Salin Tanpa Izin kena UU No.28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI No.19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)