Orideknews.com, MANOKWARI – Perubahan iklim yang memicu hujan ekstrem dan meningkatkan risiko banjir menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian, khususnya dalam menjaga stabilitas produksi padi nasional. Kondisi ini menuntut strategi tanam yang lebih adaptif agar risiko gagal panen dapat ditekan.

Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Pertanian melalui Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari menggelar Millennial Agriculture Forum (MAF) Volume 7 Edisi 4 bertema “Antisipasi Banjir dan Perubahan Iklim: Strategi Tanam Cerdas untuk Meningkatkan Produksi Padi”, Sabtu (24/1/2026).
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menyampaikan bahwa perubahan iklim ekstrem meningkatkan risiko gagal panen akibat fluktuasi suhu, perubahan pola curah hujan, serta kejadian cuaca ekstrem yang semakin sulit diprediksi.
“Fenomena ini menjadi ancaman nyata bagi sektor pertanian Indonesia, sehingga sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian (Andi Amran Sulaiman.red) diperlukan penguatan kapasitas sumber daya manusia pertanian yang adaptif terhadap iklim,” ujarnya.
Webinar ini diikuti oleh dosen dan mahasiswa, penyuluh pertanian, serta petani dari berbagai daerah. Para peserta diharapkan mampu mengaplikasikan strategi tanam cerdas berbasis iklim di lapangan guna meminimalkan dampak hujan ekstrem dan potensi banjir terhadap produksi pangan.
Untuk memperkaya perspektif, forum menghadirkan tiga narasumber dari kalangan akademisi, praktisi, dan pelaku lapangan, yakni Prof. Dr. Antonius Suparno, M.P. (Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Papua), Fadri Prasetya, S.Tr., Met. (Pengamat Meteorologi dan Geofisika Penyelia), serta Feri Irawan (Sekretaris Brigade Pangan Sejahtera 1).
Prof. Antonius menekankan pentingnya penguasaan ilmu klimatologi sebagai dasar pengambilan keputusan dalam strategi tanam. Menurutnya, pemanfaatan data dan prediksi cuaca menjadi kunci dalam mengantisipasi risiko iklim di sektor pertanian.
“Dengan memahami prediksi cuaca, petani dan pemerhati pertanian dapat melakukan antisipasi dini. Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan fenomena nyata yang sudah dan sedang terjadi,” jelasnya.
Sementara itu, Fadri Prasetya menjelaskan bahwa mitigasi perubahan iklim perlu dilakukan secara terpadu, mulai dari pembangunan infrastruktur pengendali banjir, normalisasi sungai, penerapan sistem peringatan dini, hingga adaptasi berbasis alam.
“Perubahan iklim adalah threat multiplier. Karena itu, kesiapsiagaan dan perubahan perilaku terhadap alam merupakan investasi mutlak bagi keselamatan dan keberlanjutan pertanian di masa depan,” paparnya.
Berbagi pengalaman lapangan, Feri Irawan mengajak petani untuk menerapkan strategi adaptasi melalui percepatan pengolahan lahan dan ketepatan waktu tanam sebagai kunci menjaga produktivitas padi di tengah cuaca ekstrem.
Ia menuturkan bahwa dukungan pemerintah melalui penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), serta keterlibatan pihak swasta, telah mempercepat proses pengolahan lahan dibandingkan metode konvensional, sehingga petani tidak kehilangan momentum masa tanam yang krusial.
Kegiatan yang berlangsung secara hybrid ini diikuti dengan antusias, dengan jumlah peserta daring mencapai sekitar 1.000 orang. Dalam pelaksanaannya, peserta didorong memahami pengamatan iklim sebagai dasar penting dalam pertanian modern, mengingat iklim sangat memengaruhi pertumbuhan dan produktivitas tanaman.
Menutup rangkaian kegiatan, Kepala Pusat Pendidikan Muhammad Amin menegaskan bahwa tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi curah hujan tinggi di berbagai wilayah serta mendukung mitigasi risiko terhadap program strategis Kementerian Pertanian.
“Swasembada pangan harus bersifat berkelanjutan dan didukung strategi adaptif. Banjir dan iklim ekstrem tidak boleh menghentikan produksi. Jika satu lokasi terkendala, potensi lahan lain harus dioptimalkan agar produktivitas tetap terjaga,” ujarnya.
Pada kesempatan terpisah, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa cuaca ekstrem merupakan ancaman serius bagi produktivitas pertanian karena memicu ketidakpastian musim tanam, kekeringan, dan banjir.
“Kita harus melakukan mitigasi risiko secara sistematis agar dampaknya tidak mengganggu ketahanan pangan nasional,” tegas Mentan. (ALW/ON).


