Orideknews.com, MANOKWARI — Program Papua Produktif Pemerintah Provinsi Papua Barat di sektor pariwisata yang didukung anggaran Otonomi Khusus (Otsus) Pemerintah Provinsi Papua Barat menunjukkan hasil nyata.

Melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua Barat, program pelatihan pemberdayaan masyarakat digelar di Kampung Udohotma pada akhir 2024 dan berhasil melahirkan paket wisata budaya yang diminati wisatawan mancanegara.
Kepala Biro Pelatihan dan Pengembangan SDM DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Papua Barat, Yansen Saragih, mengatakan paket wisata yang disusun mengangkat keunikan budaya Suku Sough di wilayah Pegunungan Arfak.
“Kami buatkan paket wisata dan ternyata laku terjual karena keunikan atraksi budaya Arfak,” ujarnya.
Dalam paket tersebut, wisatawan akan disuguhi delapan atraksi budaya, antara lain rumah kaki seribu, proses pembuatan noken, pembuatan panah dan atraksi memanah, serta praktik berkebun tradisional.
Pada hari kedua, wisatawan mengikuti prosesi pernikahan adat Sough, menikmati kuliner lokal, melakukan tur kebun kopi Bartho Inden, dan menutup perjalanan dengan panorama Danau Anggi dari Puncak Kobrey.
Paket wisata budaya Udohotma ini telah dibeli oleh 13 wisatawan asal Polandia dan direncanakan berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Pada 2025, tercatat tiga grup wisatawan dijadwalkan mengikuti paket serupa.
Yansen menilai capaian tersebut sebagai kesuksesan besar Program Papua Produktif karena memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.
“Selama dua hari kunjungan 14 wisatawan , ada 52 penari dan pelaku budaya yang terlibat dan semuanya dibayar. Hasil bumi dan kebutuhan lainnya juga dibeli dari warga, sehingga uang benar-benar berputar di kampung,” jelasnya saat bersama Disbudpar Papua Barat menjemput 14 wisatawan asal Polandia di Bandara Rendani pagi tadi.
Ia mencontohkan, satu penari menerima honor Rp200 ribu. Selain itu, paket wisata juga mencakup donasi kampung dan setoran untuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), dengan anggaran paket sekitar Rp1,3 juta.
“Bayangkan jika dalam setahun ada 20 sampai 30 wisatawan, maka akan ada pemasukan rutin bagi kampung dan Pokdarwis,” tambahnya Selasa, (20/1/26).
Ke depan, HPI Papua Barat mendorong pemerintah daerah melalui Disbudpar untuk mengembangkan dan mereplikasi model serupa di kabupaten lain.
“Yang seperti ini perlu dilihat dan dikembangkan, sehingga sumber daya pariwisata benar-benar dimanfaatkan untuk pendapatan daerah dan masyarakat,” kata Yansen.
Saat ini, HPI Papua Barat masih melakukan pendampingan intensif agar kualitas layanan tetap terjaga.
“Tahun ini ada tiga grup, makanya kami dampingi agar tidak terjadi kekecewaan yang bisa berdampak pada pembatalan kunjungan berikutnya,” ujarnya.
Ia juga berharap Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi menyiapkan media promosi yang lebih baik agar paket wisata dapat dipasarkan secara profesional, serta meminta dukungan pemerintah daerah Pegunungan Arfak untuk menutup berbagai kekurangan kesiapan masyarakat dalam menyambut wisatawan. (ALW/ON).


