Orideknews.com, Manokwari – Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat menargetkan capaian imunisasi anak dapat mencapai di atas 90 persen pada tahun 2026. Target tersebut dinilai realistis meskipun pemerintah daerah menyadari bahwa pencapaian angka 100 persen masih menjadi tantangan besar, mengingat kondisi geografis dan sosial di Papua Barat.

Pengelola Program Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, Hendrik Marisan, S.Km.,M.Km mengatakan target di atas 90 persen ditetapkan dengan mempertimbangkan berbagai kendala yang dihadapi sepanjang tahun 2025, mulai dari efisiensi anggaran hingga keterbatasan operasional pelayanan kesehatan di wilayah terpencil.
“Kemungkinan kami tidak bisa mencapai 100 persen, tapi kami akan berusaha mencapai di angka 90 persen ke atas. Itu target yang kami tetapkan dengan kondisi lapangan yang ada,” ujar Hendrik di Manokwari.
Ia menjelaskan, pada tahun 2025 layanan imunisasi di Papua Barat mengalami sejumlah hambatan, terutama akibat kebijakan efisiensi anggaran yang berdampak langsung pada operasional puskesmas. Keterbatasan anggaran membuat tenaga kesehatan kesulitan menjangkau anak-anak di wilayah geografis sulit, seperti daerah kepulauan, pegunungan, dan pedalaman.
Menurut Hendrik, keberlanjutan pelayanan imunisasi sangat bergantung pada dukungan anggaran operasional yang memadai. Oleh karena itu, pihaknya berharap pada tahun 2026 tidak terjadi lagi efisiensi anggaran yang berkepanjangan, khususnya di sektor kesehatan.
“Kami berharap di 2026 tidak terjadi efisiensi panjang, supaya operasional puskesmas cukup untuk melayani masyarakat, terutama di daerah-daerah yang sulit dijangkau,” katanya.
Ia mengaku, kecukupan anggaran operasional menjadi kunci utama dalam peningkatan cakupan imunisasi. Di Papua Barat, tenaga kesehatan harus menempuh berbagai tantangan untuk menjangkau masyarakat, mulai dari perjalanan laut yang membutuhkan bahan bakar hingga berjalan kaki menembus hutan dan perbukitan.
Lebih lanjut Hendrik menyampaikan, selain memperkuat aspek operasional, juga akan terus meningkatkan upaya edukasi kepada masyarakat. Edukasi dianggap penting untuk mengurangi penolakan imunisasi yang masih terjadi di sejumlah wilayah.
“Selain faktor geografis, masih ada masyarakat yang menolak imunisasi. Karena itu, edukasi kepada masyarakat dan penguatan peran kader akan terus kami lakukan,” ujarnya.
Ia menambahkan, capaian imunisasi di atas 90 persen diharapkan mampu meningkatkan status imunisasi dasar lengkap anak-anak di Papua Barat serta menekan risiko munculnya penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. (ALW/ON).




