Orideknews.com, Sorong, — Upaya meningkatkan cakupan imunisasi rutin di Kota Sorong dan Kabupaten Sorong mendapat dorongan baru dengan digelarnya Workshop Penguatan Imunisasi Rutin dengan Pendekatan Gender bagi Nakes dan Stakeholder, yang berlangsung pada 9–10 Desember 2025 di Kota Sorong.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara UNICEF dan Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat Daya, yang bertujuan mengatasi hambatan berbasis gender yang selama ini menjadi tantangan dalam mencapai cakupan imunisasi yang tinggi dan merata, terutama pasca-pandemi COVID-19.
Ketua Panitia dari HAKLI Papua Barat,Tarsiana Lelasari, S.Pd dalam laporannya menyebutkan bahwa meskipun imunisasi merupakan intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif, cakupan di sejumlah wilayah masih rendah. Hambatan gender berupa norma sosial, peran ayah dan ibu dalam pengambilan keputusan keluarga, serta pengaruh tokoh agama, menjadi faktor signifikan yang memengaruhi akses masyarakat terhadap layanan imunisasi.
“Memahami dan mengakomodasi perspektif gender dalam program imunisasi sangatlah penting. Ayah sebagai pengambil keputusan dan ibu sebagai pengasuh utama perlu diberi pemahaman dan pemberdayaan yang tepat,” ujar Lelasari.
Workshop ini dirancang untuk memperkuat pemahaman tenaga kesehatan dan lintas sektor mengenai bagaimana dinamika gender memengaruhi perilaku kesehatan masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, layanan kesehatan diharapkan mampu menyusun strategi komunikasi dan pelayanan yang lebih efektif, inklusif, dan responsif gender.
Kegiatan menghadirkan narasumber utama dari UNICEF dan Dinas Kesehatan Papua Barat Daya, serta diikuti peserta dari berbagai instansi, mulai dari Dinas Kesehatan, Puskesmas, Rumah Sakit, TP-PKK, TP-Posyandu, Poltekkes Sorong, Stikes Sorong, hingga Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak serta tokoh agama dari GKI.
Kepala Dinas Kesehatan Papua Barat Daya, dr. Jan Pieter Kambu, Sp.OG, dalam sambutannya menyoroti rendahnya cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di wilayah tersebut. Saat ini angka IDL baru mencapai 37 persen di tingkat provinsi, 55 persen di Kota Sorong, dan 50 persen di Kabupaten Sorong.
“Ini tantangan yang harus kita hadapi bersama. Imunisasi adalah tindakan pencegahan terbaik. Kita harus mengubah perilaku masyarakat dan meningkatkan pelayanan. Pasca-COVID-19, kita semakin rentan terhadap penyakit yang dapat dicegah imunisasi seperti campak, polio, dan difteri,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan media sosial untuk edukasi kesehatan yang positif serta perlunya penelitian berbasis bukti guna mengevaluasi program imunisasi yang berjalan.
Perwakilan UNICEF Indonesia, Rustini Floranita, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi ini. “Kami meyakini setiap anak di Tanah Papua berhak mendapatkan imunisasi lengkap. Kami berharap workshop ini memperkuat pemahaman pengambilan keputusan imunisasi, meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan menyampaikan pesan yang inklusif dan sensitif gender, serta memperkokoh kolaborasi lintas sektor,” ujarnya. (ALW/ON).


