Orideknews.com, Manokwari – Kepala Suku Besar Arfak sekaligus Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, mengimbau seluruh masyarakat untuk menjaga kondusivitas daerah dan tidak mudah terprovokasi dengan isu-isu yang berpotensi menimbulkan gangguan keamanan, khususnya menyikapi dinamika sosial politik yang terjadi di Sorong, Papua Barat Daya.
“Saya selaku gubernur dan Kepala Suku Besar Arfak mengimbau semua elemen menjaga keamanan agar tetap kondusif,” ujar Dominggus saat ditemui awak media. (29/8/25).
Dominggus menyatakan bahwa ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah tidak perlu diwujudkan dengan aksi anarkis. Menurutnya, aspirasi masyarakat bisa disampaikan melalui mekanisme resmi yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan.
“Pemerintah tidak larang demo, tapi ada mekanismenya. Tidak boleh sampai buat tindakan anarkis,” tegasnya.
Ia menyebut, setiap aksi penyampaian pendapat di muka umum harus terlebih dahulu diberitahukan kepada aparat kepolisian agar mendapatkan pengawalan. Koordinator aksi pun diminta bertanggung jawab menjaga ketertiban dan menghormati hak masyarakat lain.
“Silakan demo, tapi harus mendapat izin dari kepolisian baru melakukan aksi,” kata Dominggus.
Dominggus juga mengingatkan peristiwa kerusuhan pada 19 Agustus 2019 di sejumlah daerah di Tanah Papua. Menurutnya, aksi yang berawal dari penyampaian aspirasi terkait ucapan bernuansa rasisme tersebut dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk memecah belah persatuan dengan menciptakan kericuhan.
“Ada pihak yang selama ini berkeinginan memecah belah persatuan, memanfaatkan kesempatan demo supaya anarkis,” ungkapnya.
Kerusuhan yang terjadi di Kota Sorong, Papua Barat Daya, baru-baru ini dipicu oleh pemindahan empat tahanan politik (tapol) ke Makassar, Sulawesi Selatan. (ALW/ON)