Senin, Januari 26, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Wapres Gibran dan Mentan Amran Tegaskan Target Swasembada Gula pada 2026

Yogyakarta – Pemerintah menegaskan komitmen besar menuju kemandirian pangan nasional melalui kegiatan Rembuk Tani bersama Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka di Lahan Ketahanan Pangan Lanud Adisucipto, Sleman, Yogyakarta. Dalam forum tersebut, Wapres Gibran dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan swasembada gula konsumsi dapat tercapai pada 2026, dan sepenuhnya mandiri paling lambat 2028.

Wapres Gibran menekankan bahwa Presiden telah memberikan mandat jelas kepada Kementerian Pertanian untuk mengatasi persoalan klasik di sektor pertanian, mulai dari ketersediaan pupuk, bibit, air, harga, hingga praktik mafia pangan. Ia juga menyoroti pentingnya modernisasi melalui mekanisasi, pelibatan generasi muda, serta sinergi riset dengan perguruan tinggi, khususnya Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Masalahnya sudah kita tahu semua. Solusinya juga ada. Sekarang tinggal kita gotong-royong jalankan. Negara harus turun ke sawah,” ujar Wapres di hadapan ratusan petani dan pemangku kepentingan.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman memaparkan sejumlah langkah konkret untuk mempercepat kemandirian gula, di antaranya alokasi dana Rp1,5 triliun guna menjaga harga gula petani, kebijakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang tidak lagi akumulatif, skema kredit apalis tanpa agunan, serta program bongkar ratun nasional selama tiga tahun berturut-turut untuk meningkatkan produktivitas tebu.

“Dulu Indonesia penyuplai gula nomor dua dunia. Kini saatnya kita bangkit lagi,” tegas Amran.

Berdasarkan data terbaru, Indonesia memiliki 796.621 petani tebu yang mengelola 520.823 hektare lahan panen. Sekitar 83,5 persen produksi tebu di Jawa berasal dari petani rakyat. Namun, mayoritas lahan masih berupa tanaman ratun tua yang menyebabkan penurunan rendemen. Kajian menunjukkan program bongkar ratun dapat meningkatkan produksi hingga 15,5 ton per hektare, serta mendongkrak rendemen dari 7,29 persen menjadi 7,65 persen. Meski demikian, pelaksanaannya baru mencakup 8,27 persen lahan, jauh dari target ideal 20 persen.

Selain fokus pada peningkatan produksi, pemerintah juga menggagas Yogyakarta sebagai pusat agroedukasi, wisata industri gula, sekaligus inkubator inovasi teknologi tebu yang melibatkan perguruan tinggi dan lembaga riset.

Langkah strategis ini, menurut pemerintah, merupakan wujud keseriusan dalam mengembalikan kejayaan gula Indonesia dan mengurangi ketergantungan pada impor. (RR/ON)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles

error: Hati-hati Salin Tanpa Izin kena UU No.28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI No.19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)