Orideknews.com, Manokwari, – Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia terus menggenjot produksi pangan nasional. Hal itu dilakukan menghadapi ancaman krisis pangan global dan perubahan iklim ekstrim El nino yang belum usai.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan, tak pernah berhenti berupaya untuk menjaga ketahanan pangan dengan mengedepankan peningkatan produksi padi dan jagung.
“Kita fokus dalam peningkatan program padi dan jagung ini adalah untuk mancapai swasembada dan mengurangi impor,” kata Mentan.
Menindaklanjuti hal tesebut, Kementan menggelar pembinaan penyuluh pertanian dan petani di Provinsi Papua Barat. Dengab mengusung tema ‘mendukung produktivitas dan Produksi padi dan jagung nasional’ di Polbangtan Manokwari’ Sabtu, (27/1/24).
Dihadapan 325 peserta yang meliputi mahasiswa, petani dan penyuluh Kepala BPPSDMP Kementan, Prof Dedi Nursyamsi M.Agr menyampaikan perubahan iklim global dan dampak covid-19 serta perang Rusia Ukraina menyebabkan kelangkaan pupuk.
Hal itu kata Prof Dedi, mengakibatkan penurunan produksi pangan dan meningkatkan nilai impor di Indonesia, sehingga harus digenjot peningkatan produksi padi dan jagung dalam penyediaan pangan bagi 278 juta penduduk indonesia.
“Untuk mengatasi krisis pangan global, jangan sampai terjadi di bumi Indonesia yang kita cintai ini. Tidak lain adalah kita harus genjot padi dan jagung, di seluruh pelosok Indonesia,” ungkapnya.
Dikatakan Prof. Dedi pembinaan terhadap penyuluh pertanian dan para petani, termasuk para petani milenial di Papua Barat merupakan upaya Kementan dalam menghadapi krisis pangan global.
“Di lokasi lain sebagian telah dilaksanakan dan sebagian belum, sejak akhir tahun lalu, bulan November, Desember dan Januari, kita terus lakukan pembinaan petani dan penyuluh secara intesif, di seluruh pelosok Indonesia. Hari ini kita berada di Papua Barat, tepatnya di Manokwari, kita ketemu dengan para petani dan penyuluh se- Papua Barat,” terangnya.
Prof Dedi menekankan bahwa, krisis pangan global terjadi, ada beberapa negara yang saat ini telah setop eksportirnya.
“Jadi solusi yang tepat kita musti genjot padi dan jagung sendiri sehingga tidak tergantung pada orang lain. Saat ini sampai dengan Februari 3,5juta ton beras kita impor. Targetnya, Mulai tahun ini impor harus dikurangi, bahkan tahun berikutnya, tahun berikutnya lagi kita harus swasembada dan kita ekspor,” beber Prof. Dedi.
Kementan kata dia, bertekad untuk mengatasi permasalahan dalam negeri sehingga tahun 2025-2026, Indonesia harus swasembada, terutama untuk padi dan jagung.
Prod Dedi menyebut, Manokwari, Papua Barat sampai saat ini masih melakukan impor beras dari Makassar dan Surabaya.
“Kedepan itu tidak boleh terjadi. Minimal Manokwari Papua Barat, harus mampu menyediakan beras, jagung. Menyediakan pangan untuk warganya sendiri. Syukur kedepannya bisa ekspor ke Maluku, Papua Nugini dan sekitarnya,” pesannya.
Ia menilai, SDM pertanian harus digenjot, Prof Dedi juga mengingatkan agar para petani membuat pupuk organik, pupuk hayati, pupuk kompos dan pestisida nabati.
“Sehingga petani tidak tergantung pada pupuk kimia, petani tidak tergantung pada pestisida kimia. Bisa memproduksi sendiri, pupuk kimia dan pestisida hanya secukupnya saja, seperlunya saja. Sekali lagi yang harus kita lakukan untuk menggenjot produksi itu bukan hanya sarana prasarana, pupuk benih bukan hanya itu tetapi SDMnya harus kita genjot, kita bimbing, petani harus kita dampingi, agar mereka mampu berdikari, mampu mandiri sehingga produksi pertanian kita meningkat di Papua Barat,” tegas Prof. Dedi.
Direktur Polbangtan Manokwari, Dr.drh. Purwanta, M.Kes menyebut, peran pihaknya adalah menyediakan terkait peningkatan kapasitas petani dari sisi pengetahuan dan keterampilan dalam hal tata cara berbudidaya secara baik.
“Melalui kegiatan pendidikan penyelenggaraan pendidikan dan peningkatan kapasitas petani mudanya tentu melalui peningkatan akademik. Untuk pelaku utamanya petani adalah dengan kegiatan-kegiatan diseminasi penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat,” tambah Purwanta. (RR/ON).




